BALI — Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) menyatakan kontribusi motor listrik berbasis baterai di pasar roda dua nasional baru sekitar 1 sampai 2 persen. Karena itu, AISI mendorong pendekatan multiteknologi yang tidak hanya bertumpu pada EV, tetapi juga mesin pembakaran yang semakin irit dan bahan bakar biofuel seperti etanol E5 hingga E50.
Ketua Bidang Komersial AISI sekaligus Ketua Penyelenggara Imos 2026, Yosef Utama, menyampaikan hal itu di Jakarta, Jumat (30/10). Menurut dia, pilihan teknologi yang variatif diambil karena motor listrik masih menghadapi sejumlah tantangan teknis yang memengaruhi keputusan konsumen.
Jarak Tempuh hingga Ketahanan Baterai Masih Jadi Kendala
Yosef menyebut tiga persoalan utama yang membayangi adopsi motor listrik di Indonesia: jarak tempuh (range), durasi pengisian daya (charging time), serta State of Health (SOH) atau ketahanan baterai. Ketiganya masih menjadi pertimbangan calon pembeli sebelum beralih dari motor berbahan bakar bensin.
"Tentunya satu lagi moda jenis yaitu EV, bagaimana electric vehicle itu terus-menerus fit dengan kebutuhan konsumen. Saat ini mungkin kalau kita hitung sekitar 1 sampai 2 persen saja kontribusi EV. Tapi kita yakinin segmen ini akan terus bertumbuh ketika dia mampu menyentuh solusi mobilitas dari konsumen," ujar Yosef.
Empat Pilar Multiteknologi Versi AISI
Strategi multiteknologi yang dimaksud AISI berdiri di atas beberapa pilar yang dikembangkan paralel, bukan berurutan. Pabrikan tetap menyiapkan motor listrik, tetapi porsi terbesarnya masih diisi mesin pembakaran dalam yang terus diperbaiki efisiensinya.
- ICE hemat bahan bakar: mesin bensin konvensional yang terus ditingkatkan lewat teknologi fuel efficiency.
- Biofuel: pemanfaatan etanol dalam campuran bahan bakar, mulai dari E5, E10, E20, hingga E50.
- Kendaraan listrik berbasis baterai: tetap disiapkan pabrikan sebagai pelengkap lini produk ramah lingkungan.
"Iya, kita yakini bahwa solusi mobilitas itu bukan cuma satu ya, kita sebut multiteknologi. Di situ ada motor ICE yang terus-menerus makin irit ya, makin kita sebut fuel efficiency technology. Kemudian yang nomor dua, teknologi-teknologi seperti biofuel. Kalau ada etanol E5, E10, E20, E50 gitu ya nantinya ke sana, juga akan melengkapi juga," kata Yosef.
Etanol Dianggap Bikin Energi Lebih Berkelanjutan
Dari sisi pasokan energi, AISI menilai biofuel memberi keuntungan tambahan karena sumbernya bisa diperbarui. Peningkatan kadar etanol dalam campuran bahan bakar disebut membuat energi yang dipakai motor bensin lebih berkelanjutan dibanding BBM fosil murni.
"Tapi semuanya berbenah dan kejar terkait dengan teknologi yang kita sebut tadi multiteknologi, terus-menerus improve baik itu ICE terkait dengan fuel efficiency, biofuel, dengan biofuel makin sustainable-lah energi yang kita pakai ya, dan terakhir EV," ujar Yosef.
Pasar Roda Dua Luas, Opsi Energi Tak Bisa Tunggal
Alasan lain di balik pendekatan ini adalah luasnya pasar sepeda motor Indonesia. Dengan jumlah pengguna yang besar dan kebutuhan mobilitas harian yang beragam, AISI menilai ketergantungan pada satu jenis teknologi berisiko tidak menjangkau seluruh segmen konsumen.
Melalui strategi tersebut, AISI menyatakan komitmennya menghadirkan pilihan kendaraan yang lebih ramah lingkungan, hemat energi, dan tetap fleksibel menjawab kebutuhan mobilitas harian masyarakat. Arah ini juga akan menjadi salah satu bahasan dalam gelaran Imos 2026 yang berada di bawah koordinasi Yosef sebagai ketua penyelenggara.