DENPASAR — Ala ayuning dewasa untuk Minggu, 1 November 2026 memuat sepuluh perhitungan dewasa yang saling bertumpuk. Rincian itu dirujuk dari kalenderbali.org dan dipakai masyarakat Hindu Bali sebagai pertimbangan sebelum menggelar kegiatan adat maupun ritual.
Dari sepuluh perhitungan tersebut, tiga di antaranya dinilai membuka peluang bagi kegiatan tertentu. Tujuh lainnya berisi pantangan yang perlu dicermati, terutama bagi warga yang menjadwalkan upacara besar.
Kala Prawani: Hari Kurang Baik untuk Semua Kegiatan
Perhitungan Kala Prawani menyebut hari ini mengandung pengaruh yang kurang baik untuk semua kegiatan. Catatan itu disertai alahing dewasa 3.
Kala Prawani menjadi dasar utama bagi warga yang memilih menunda acara besar. Sejumlah perhitungan lain di hari yang sama memperkuat pantangan tersebut.
Pernikahan hingga Ngaben Masuk Daftar Pantangan
Carik Walangati mencatat pantangan untuk pernikahan atau wiwaha, atiwa-tiwa atau ngaben, serta membangun rumah. Perhitungan ini juga memakai alahing dewasa 3.
Pantangan serupa muncul dari Salah Wadi. Perhitungan itu tidak membolehkan Manusa Yadnya seperti wiwaha, mepandes, dan potong rambut, juga Pitra Yadnya seperti penguburan, atiwa-tiwa atau ngaben, nyekah, dan ngasti.
Kala Rau menambahkan larangan membangun rumah dan mengatapi rumah. Menurut perhitungan itu, akibatnya akan terbakar. Kala Rau juga meminta warga membatasi bicara yang dapat menimbulkan kekeliruan dan tidak mengawinkan orang.
Tiga Perhitungan yang Membuka Peluang Kegiatan
Banyu Urug dinilai baik untuk membuat bendungan, namun tidak baik untuk membuat sumur. Perhitungan ini memakai alahing dewasa 3.
Kala Gotongan membolehkan warga memulai suatu usaha. Pantangannya hanya mengubur atau membakar mayat, dengan alahing dewasa 4.
Kala Katemu memberi kelonggaran untuk menangkap ikan, berburu, mapikat, memasang jerat, kungkungan, dan mengadakan pertemuan. Perhitungan ini memakai alahing dewasa 3.
Ramuan Obat dan Senjata Dinilai Baik
Kala Mretyu membolehkan pembuatan senjata, mulai berperang membela kebenaran, dan memberi nasehat kepada orang lain. Yang dipantang adalah bersenggama dan segala yadnya, dengan alahing dewasa 3.
Kala Rau, meski memuat banyak larangan, dinilai baik untuk meramu obat-obatan, sadek, membuat senjata, dan upas atau penjaga. Alahing dewasa 3 melekat pada perhitungan ini.
Sri Tumpuk menjadi perhitungan terakhir yang membuka peluang, yakni untuk mencari burung atau mepikat. Perhitungan ini memakai alahing dewasa 4.
Pararasan Laku Bulan hingga Pratiti Separsa
Selain sepuluh dewasa tersebut, kalender Bali mencatat Pararasan Laku Bulan dan Pancasuda Wisesa Segara. Dua perhitungan itu lazim disandingkan dengan Ekajalaresi Suka Pinanggih dan Pratiti Separsa.
Rangkaian perhitungan ini biasanya dibaca bersama, tidak berdiri sendiri. Warga Bali umumnya berkonsultasi dengan pemangku atau sesepuh adat sebelum memutuskan jadwal upacara.
Bagi yang hendak memulai usaha atau menggelar pertemuan, Kala Gotongan dan Kala Katemu bisa menjadi rujukan pada hari ini. Sementara jadwal wiwaha, ngaben, dan pembangunan rumah sebaiknya digeser ke hari lain yang perhitungannya lebih mendukung.