KLUNGKUNG — Rombongan Pemerintah Kabupaten Klungkung menempuh dua wilayah dalam sehari untuk mendampingi karya suci warga pengempon. Setelah prosesi persembahyangan di Nusa Penida rampung, Bupati Satria dan Ny. Eva Satria langsung bertolak kembali ke Klungkung daratan.
Kehadiran jajaran pemkab di tengah warga pengempon disebut sebagai bentuk dukungan penuh pemerintah terhadap setiap dinamika kegiatan keagamaan masyarakat. Bukan sekadar menghadiri, rombongan turut menyelesaikan rangkaian upacara hingga tuntas.
Dua Lokasi Suci di Nusa Penida Jadi Titik Awal
Agenda di Kepulauan Nusa Penida dibuka dengan Uleman Bakti Penganyar di Pura Parhyangan Penida, Desa Sakti. Dari sana, rombongan melanjutkan ke Sad Kahyangan Jagat Pura Penataran Ped.
Dua pura itu menjadi titik awal sebelum Bupati menyeberang kembali ke Klungkung daratan. Perjalanan lintas selat dalam satu hari menunjukkan prioritas pemkab terhadap kegiatan adat di wilayah kepulauan.
Dana Punia Diserahkan Langsung ke Kelihan Pengempon
Sebagai wujud perhatian atas gotong royong warga, Bupati Satria menyerahkan dana punia yang diterima langsung oleh Kelihan Pengempon Pura. Bantuan itu ditujukan untuk mendukung kelancaran seluruh tahapan karya suci.
Penyerahan dilakukan di tengah rangkaian upacara, bukan lewat perantara. Cara ini memastikan dana punia sampai ke pengempon yang mengurus jalannya karya.
Adat dan Agama Disebut Benteng Identitas Krama Bali
Dalam sambutannya, Bupati Made Satria menegaskan bahwa keberadaan adat dan agama merupakan benteng utama identitas krama Bali yang harus terus dijaga keajegannya.
"Adat dan agama adalah akar identitas kita di Bali. Melalui sinergi spiritual yang kuat antara pemerintah dan masyarakat, kami berharap momentum upacara ini dapat mempererat tali persaudaraan, menjaga kerukunan, sekaligus mengokohkan ketahanan budaya kita," tegas Bupati Satria.
Pernyataan itu disampaikan di tengah arus modernisasi yang terus menggerus tradisi di banyak daerah. Pemkab Klungkung memilih hadir langsung di setiap karya yadnya sebagai bentuk pendampingan, bukan hanya seremoni.
Tri Hita Karana Jadi Kerangka Ketahanan Budaya
Pelaksanaan karya yadnya diharapkan meneguhkan nilai-nilai luhur Tri Hita Karana. Ajaran itu mencakup hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan (Parahyangan), sesama manusia (Pawongan), serta lingkungan alam sekitar (Palemahan).
Rangkaian upacara di Nusa Penida dan Klungkung daratan menjadi contoh bagaimana ketiga hubungan itu dirawat lewat praktik adat. Pemerintah kabupaten menempatkan diri sebagai bagian dari sinergi tersebut, bersama warga pengempon dan kelihan pura.