BALI — Angka ekspor Juni tersebut berbanding terbalik dengan posisi Mei 2026 yang hanya mencapai 2 juta ton. GAPKI mencatat, pertumbuhan produksi dan konsumsi dalam negeri yang lebih besar tidak mampu mengejar laju ekspor, sehingga menyebabkan stok akhir bulan turun dari posisi awal tahun yang sebesar 2,07 juta ton.
Lonjakan Utama dari CPO dan Minyak Olahan
Kenaikan ekspor pada Juni ditopang oleh seluruh segmen produk. Pengiriman minyak sawit olahan (refined palm oil) melesat 66% menjadi 2,36 juta ton dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 1,42 juta ton. Volume crude palm oil (CPO) bahkan melonjak hingga 980% menjadi 335 ribu ton dari basis rendah 31 ribu ton pada Mei.
Produk turunan lainnya, yaitu minyak inti sawit olahan, juga mencatatkan pertumbuhan signifikan sebesar 110% menjadi 116 ribu ton. Sementara itu, produksi CPO pada Juni naik 8,59% menjadi 4,82 juta ton dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 4,17 juta ton.
Koreksi Stok Akibat Ekspor dan Konsumsi yang Lebih Cepat
Secara kumulatif pada semester pertama 2026, total produksi CPO dan palm kernel oil (PKO) mencapai 30,28 juta ton. Angka ini tumbuh 15,82% dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang tercatat sebesar 27,89 juta ton.
Namun, akumulasi ekspor yang mencapai 16,60 juta ton dan konsumsi domestik 12,99 juta ton sepanjang Januari-Juni membuat stok akhir Juni tidak banyak beranjak dari posisi awal tahun. GAPKI mencatat stok akhir bulan berada di level 2,84 juta ton, sebuah sinyal bahwa permintaan pasar internasional dan dalam negeri mampu menyerap tambahan produksi yang ada.
Nilai Ekspor Naik, Harga CPO Justru Terkoreksi
Dari sisi nilai, ekspor sawit menghasilkan devisa US$3,92 miliar pada Juni 2026, meningkat 57,45% dibandingkan Mei yang sebesar US$2,49 miliar. Peningkatan nilai ini terjadi meskipun terdapat penurunan pada harga rata-rata ekspor CPO.
Harga rata-rata ekspor CPO tercatat US$1.174 per ton, turun 4,32% dari US$1.227 per ton pada Mei. Pelemahan harga ini sejalan dengan pergerakan harga CPO kontrak berjangka di Malaysia Derivatives Exchange (MDEX) yang turun dari US$1.134 per ton menjadi US$1.107 per ton.
Meski harga spot terkoreksi, rata-rata harga ekspor CPO sepanjang Januari-Juni 2026 masih lebih tinggi dibandingkan tahun lalu. Harga tercatat di level US$1.132 per ton, sementara pada periode yang sama tahun 2025 berada di angka US$1.088 per ton.
Permintaan India dan China Menguat Tajam
Dari sisi negara tujuan, basis permintaan terbesar pada Juni berasal dari India. Ekspor ke negara tersebut mencapai 328 ribu ton, melejit 396% dibandingkan bulan sebelumnya. Tiongkok juga mencatatkan pertumbuhan 67% menjadi 256 ribu ton, disusul Pakistan yang naik 88% menjadi 132 ribu ton.
Berikutnya, pengiriman ke Malaysia tumbuh 149% menjadi 129 ribu ton dan ke Bangladesh melonjak 133% menjadi 98 ribu ton. Di sisi lain, ekspor ke Rusia justru mengalami penurunan 20% menjadi 25 ribu ton, sementara pengiriman ke Uni Eropa terkontraksi tipis 2% menjadi 4 ribu ton.
Konsumsi Biodiesel Jadi Penopang Permintaan Domestik
Permintaan dalam negeri pada Juni mencapai 2,2 juta ton, naik 5,92% dibandingkan Mei yang sebesar 2,08 juta ton. Penyebab utamanya adalah penyerapan untuk campuran biodiesel yang meningkat menjadi 1,13 juta ton dari posisi 1,04 juta ton.
Konsumsi untuk sektor pangan ikut naik menjadi 878 ribu ton dari 856 ribu ton. Adapun penyerapan untuk industri oleokimia meningkat tipis menjadi 192 ribu ton.