Pencarian

Pemprov Bali Tanam 100 Pohon di Lereng Batukaru, Kawasan yang Menopang 20 Subak dan Tujuh Desa

Kamis, 03 September 2026 • 21:01:31 WIB
Pemprov Bali Tanam 100 Pohon di Lereng Batukaru, Kawasan yang Menopang 20 Subak dan Tujuh Desa
Petugas dan warga menanam bibit pohon di lereng Gunung Batukaru, Tabanan, Bali, dalam program reforestasi yang menopang 20 subak dan tujuh desa.

TABANAN — Kolaborasi lintas sektor dalam rehabilitasi hutan Bali mulai diwujudkan melalui penanaman pohon di lereng Gunung Batukaru. Kawasan ini bukan sekadar area konservasi, melainkan penyangga utama irigasi pertanian yang menghidupi belasan desa di Kabupaten Tabanan.

Kepala Bidang Pengelolaan DAS dan Pemberdayaan Masyarakat Dinas Kehutanan Provinsi Bali, I Ketut Subandi, menegaskan bahwa reforestasi tidak berhenti pada menanam pohon.

"Reforestasi adalah menanam pohon dan mengembalikan fungsi ekologis kawasan," ujarnya di sela kegiatan penanaman yang berlangsung hingga 2 September.

Menopang 20 Subak dan Tujuh Desa

Lereng Gunung Batukaru memiliki peran strategis bagi keberlanjutan pertanian di Bali. Vegetasi di kawasan ini menjaga pasokan air untuk 20 sistem irigasi subak dan kebutuhan tujuh desa di sekitarnya.

Jika tutupan hutan rusak, dampaknya langsung terasa pada produktivitas sawah dan ketersediaan air bersih bagi warga. Karena itu, pemilihan jenis pohon tidak dilakukan asal tanam.

Sebanyak 30 pohon beringin, 50 pohon mahoni, dan 20 pohon cempaka ditanam di lahan seluas 1.000 meter persegi. Jenis tersebut dipilih karena sesuai kondisi ekologis Batukaru sekaligus memiliki makna budaya bagi kawasan pura.

Bibit Rusak? Diganti dalam 12 Bulan Pemeliharaan

Nuanu Social Fund tidak hanya hadir saat penanaman. Lembaga ini mendukung penuh proses pemeliharaan selama 12 bulan, termasuk penyiraman, penggantian bibit yang mati, dan perlindungan area tanam.

Head of Nuanu Social Fund, Auditya Sari, menyebut pihaknya akan memublikasikan hasil pemantauan secara transparan kepada publik.

"Kami akan mempublikasikan tingkat keberhasilan hidup pohon setelah satu tahun, apapun hasilnya. Peran kami adalah mendukung agenda reforestasi yang dipimpin pemerintah, sekaligus menghormati pengetahuan masyarakat lokal," kata Auditya.

Hasil pemantauan tersebut dijadwalkan dirilis pada September 2027. Langkah ini menjadi semacam mekanisme akuntabilitas yang jarang dilakukan dalam program penanaman pohon berskala serupa.

Pariwisata Ikut Menjaga Sumber Airnya

Keterlibatan Bali Tourism Board dalam kegiatan ini menegaskan bahwa industri pariwisata memiliki kepentingan langsung terhadap kelestarian hutan. Chairman Bali Tourism Board, Ida Bagus Agung Partha Adnyana, menyebut air menjadi simpul antara ekologi dan ekonomi.

"Industri pariwisata bergantung pada air yang ditampung kawasan tangkapan seperti Batukaru. Menjaga hutan berarti menjaga keberlangsungan usaha kita," jelasnya.

Dengan pola kolaborasi yang melibatkan pemerintah, desa adat, dan swasta, kegiatan ini diharapkan menjadi model yang bisa direplikasi di kawasan hutan lain di Bali. Keterlibatan desa adat Wangaya Gede menjadi kunci agar program berjalan selaras dengan kearifan lokal.

Rehabilitasi hutan di Bali tidak bisa hanya mengandalkan anggaran pemerintah. Kolaborasi semacam ini menunjukkan bahwa menjaga lingkungan justru bisa berjalan seiring dengan kepentingan ekonomi, selama ada kesepahaman tentang apa yang dipertaruhkan.

Follow lensabali.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: kabarnusa.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks