BALI — Fuad Bawazier mengkritik keras pola perputaran uang hasil tambang yang dinilai tidak adil. Ia menyebut keuntungan ekspor sengaja diparkir di luar negeri, lalu dikembalikan ke Indonesia dengan menyamar sebagai investasi asing.
"Luar biasa besarnya tambang kita, sampai-sampai hutan gundul. Tapi kok pertumbuhannya enggak ada? Devisanya diparkir di luar negeri, terus nanti pura-pura diinvestasikan lagi di sini. Itu tidak logis! Duit orang-orang kita sendiri ditaruh di luar, lalu diputar-putar lagi di sini seolah investasi asing," ungkap Fuad dalam Podcast TO THE POINT AJA di SINDOnews, Jumat (18/7).
Dampak ke Penerimaan Negara dan Cadangan Devisa
Akibat manipulasi ini, rasio pajak (tax ratio) Indonesia terus anjlok. Negara tidak mendapatkan porsi penerimaan yang sah dari pajak komoditas karena adanya manipulasi data administrasi oleh oknum pengusaha tambang.
Di sisi lain, cadangan devisa minim membuat Indonesia selalu kekurangan pasokan dolar domestik. Padahal, volume ekspor komoditas tanah air berada di papan atas dunia. Fuad menilai isu menguapnya Devisa Hasil Ekspor (DHE) selama ini selalu dihindari dan dianggap tabu karena kuatnya cengkeraman oligarki.
Kebijakan Ekspor Satu Pintu Picu Perlawanan
Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto kini mulai menerapkan kebijakan ekspor satu pintu. Langkah ini langsung mengusik zona nyaman para pengusaha tambang nakal yang selama ini menikmati praktik tersebut.
Fuad memperingatkan, kebijakan ini tidak akan berjalan mulus. Para pengusaha yang terusik dipastikan akan melakukan perlawanan sengit demi menggagalkan atau menunda aturan baru tersebut dengan berbagai cara. "Perang dingin antara negara dan gurita bisnis hitam mulai memicu gejolak serius di sektor moneter," ujarnya.
Ia menegaskan, pengelolaan sumber daya alam harus fair dan memberikan manfaat nyata bagi rakyat. Selama bertahun-tahun, Indonesia kehilangan manfaat dari pengelolaan SDA karena keuntungan ekspor lebih banyak mengalir dan mengendap di luar negeri, bukan untuk pembangunan di dalam negeri.