GIANYAR — Cuaca ekstrem yang makin sering melanda Bali mendorong warga di tingkat desa untuk tidak lagi sekadar menjadi objek sosialisasi bencana. Di Kabupaten Gianyar dan Karangasem, masyarakat justru turun tangan memproduksi sendiri alat komunikasi risiko yang sesuai dengan ancaman di lingkungan mereka.
Rangkaian lokakarya yang digelar sejak 7 Juli 2026 di Karangasem dan ditutup hari ini, Kamis (16/7/2026), di Gianyar ini menghasilkan beragam media. Di Desa Nawa Kerti, Kecamatan Abang, Karangasem, warga memproduksi video edukasi tentang cuaca ekstrem dan poster peringatan tanah longsor. Sementara itu, di Desa Labasari, lahir video antisipasi kebakaran hutan dan sebuah lagu tentang ancaman gelombang tinggi.
Dua Desa di Gianyar Fokus pada Longsor dan Banjir Genangan
Di Kecamatan Tampaksiring, Gianyar, masyarakat Desa Pejeng Kelod merancang dua poster mitigasi yang menyasar tanah longsor dan banjir genangan. Tak ketinggalan, warga Desa Manukaya juga menghasilkan dua poster komprehensif yang memandu langkah-langkah penanganan tanah longsor, baik sebelum maupun setelah bencana terjadi.
Proses kreatif ini tidak berjalan sendiri. Yayasan Cahaya Mutiara Ubud dan ULD PB Provinsi Bali dilibatkan sebagai fasilitator untuk memastikan seluruh lapisan masyarakat, termasuk kelompok rentan, mendapat porsi yang setara dalam perumusan strategi.
“Ini Menambah Wawasan Disabilitas Saat Bencana”
Ni Nengah Warni (26) dan Ni Nengah Nuriati (49), fasilitator dari Yayasan Cahaya Mutiara Ubud, menjadi bukti bahwa penyandang disabilitas bisa memimpin proses mitigasi. “Ini menambah wawasan, kalau misalnya terjadi bencana, apa yang harus dilakukan seorang disabilitas. Itu yang harus kita lakukan untuk menyelamatkan diri. Harus gimana menyelamatkan diri sendiri maupun orang lain,” ujar perwakilan fasilitator tersebut saat mendampingi masyarakat di Tampaksiring.
Anak Agung Gede Yoga (25), pemuda penyandang disabilitas fisik dari Tampaksiring, mengaku antusias karena kegiatan ini menjadi ruang belajar sekaligus bersosialisasi yang selama ini terbatas baginya. “Senang ada acara gini biar bisa tahu bencana di desa, sejenis banjir atau tanah longsor, biar tahu juga harus ngapain, kegiatan waspadanya apa saja,” katanya. Yoga berharap pelibatan bermakna bagi kaum disabilitas terus diutamakan agar rekan-rekannya makin percaya diri berbaur di tengah masyarakat.
Bukan Sekadar Poster, Ada Rambu di Titik Rawan
Selain media cetak dan digital, rangkaian kegiatan Program Bali Mandala 2025 ini juga memasang plang serta rambu kebencanaan di titik-titik rawan strategis di masing-masing desa. Keberhasilan ini didukung sinergi Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Desa, relawan, Karang Taruna, guru, Satgas KENCANA, serta mahasiswa KKN UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dan KKN-PPM Universitas Gadjah Mada (UGM).
Berdasarkan data BNPB, Bali masuk dalam sepuluh wilayah dengan kejadian cuaca ekstrem tertinggi sepanjang 2024. Dampaknya paling dirasakan kelompok berisiko seperti perempuan, anak-anak, lansia, dan penyandang disabilitas. Dengan adanya media komunikasi risiko yang inklusif dan rambu-rambu fisik, desa-desa ini diharapkan tak hanya tangguh di atas kertas, tetapi benar-benar siap menghadapi ancaman nyata.