BULELENG — Petani di Kabupaten Buleleng mulai merasakan efek positif dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan pemerintah pusat. Hasil panen komoditas seperti semangka, sayuran, telur, hingga daging ayam kini memiliki kepastian pasar setiap hari.
Semangka yang Sempat Membusuk Kini Laku Terjual
Ketua Fraksi Gerindra DPRD Bali I Gede Harja Astawa mengungkapkan, sebelum ada MBG, petani semangka di Buleleng kerap kesulitan menjual hasil panen saat produksi melimpah. Akibatnya, sebagian buah berisiko membusuk di ladang.
“Kami melihat di daerah yang sudah memiliki dapur MBG, khususnya di Kabupaten Buleleng, para petani mulai bergairah kembali menjalankan usaha pertaniannya. Selama ini kendala utama petani adalah pemasaran hasil panen. Dengan adanya MBG, hasil panen menjadi lebih mudah terserap,” ujarnya.
Kebutuhan Harian: Ribuan Telur dan Daging Ayam
Menurut Gede Harja, satu dapur MBG rata-rata melayani sekitar 3.000 porsi makanan setiap hari. Angka itu berarti kebutuhan harian meliputi ribuan butir telur, daging ayam, sayur, dan buah-buahan yang harus dipasok dari petani dan peternak lokal.
“Satu dapur rata-rata melayani sekitar 3.000 porsi makanan setiap hari. Itu berarti ribuan butir telur, daging ayam, sayur, dan buah dibutuhkan setiap hari. Kondisi ini tentu menggerakkan ekonomi masyarakat sekaligus membuka pasar bagi produk pertanian dan peternakan lokal,” katanya.
Target 400 Dapur, Perputaran Uang Capai Ratusan Miliar
Gede Harja memperkirakan Bali membutuhkan sekitar 400 dapur MBG agar seluruh sekolah dan penerima manfaat merasakan program ini secara optimal. Jika target itu tercapai, dampak ekonominya dinilai sangat besar.
“Kalau 400 dapur beroperasi, uang yang berputar di Bali bisa mencapai ratusan miliar rupiah setiap bulan. Ini akan meningkatkan daya beli masyarakat, membuka lapangan kerja, sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah,” ungkapnya.
MBG Juga Jamin Gizi Anak Sekolah
Selain mendorong sektor pertanian, program MBG juga menjawab persoalan gizi anak-anak dari keluarga berpenghasilan rendah. Gede Harja menilai masih banyak siswa yang berangkat ke sekolah tanpa sarapan atau belum mendapatkan asupan gizi memadai.
“Dengan adanya MBG, pemerintah memastikan setiap siswa memperoleh makanan bergizi saat berada di sekolah. Orang tua juga menjadi lebih tenang karena kebutuhan gizi anaknya telah dipenuhi,” ujarnya.
Kendala Distribusi dan Pengawasan
Meski demikian, Gede Harja mengakui pelaksanaan program masih menghadapi sejumlah kendala, terutama terkait distribusi di beberapa daerah. Namun, menurutnya hal itu wajar karena MBG masih tergolong program baru.
Ia mengajak masyarakat ikut mengawal pelaksanaan MBG dengan memberikan kritik membangun. “Pengawasan itu bukan untuk mencari-cari kesalahan, tetapi memastikan jika ada kekurangan dapat segera diperbaiki sehingga program ini semakin baik,” katanya.
Gede Harja juga mendukung langkah Presiden Prabowo Subianto menindak tegas pihak yang diduga menyalahgunakan program, termasuk dugaan praktik jual beli dapur yang mencuat di tingkat nasional. Hingga saat ini, DPRD Bali belum menerima laporan adanya penyimpangan serupa di Bali.