BULELENG — Rencana pembukaan jalur penyeberangan baru ini bukan untuk menggantikan total Pelabuhan Gilimanuk, melainkan sebagai opsi untuk memecah kepadatan kendaraan logistik di titik tersibuk perlintasan Jawa-Bali tersebut. Kemenhub melihat Celukan Bawang memiliki potensi besar karena letaknya yang langsung menghadap ke Selat Bali, sama seperti Gilimanuk.
Rute Logistik Jangkar-Celukan Bawang Jadi Prioritas
Fase awal pengkajian memprioritaskan angkutan barang atau logistik. Rute yang diuji coba nantinya menghubungkan Pelabuhan Jangkar di Situbondo, Jawa Timur, dengan Pelabuhan Celukan Bawang. Langkah ini dianggap strategis untuk mengurangi antrean truk dan kontainer di Pelabuhan Ketapang-Gilimanuk, terutama saat arus mudik dan libur panjang.
Mengapa Celukan Bawang Dilirik Kemenhub?
Pelabuhan Celukan Bawang dinilai memiliki kedalaman dan dermaga yang memadai untuk disandari kapal ferry berukuran besar. Selain itu, lokasinya di pesisir utara Bali dinilai bisa langsung mendistribusikan barang ke kawasan tengah dan timur Pulau Dewata tanpa harus melalui jalur darat yang padat dari Gilimanuk ke Denpasar.
"Kami sedang melakukan kajian teknis dan kelayakan. Ini adalah solusi jangka panjang untuk mengurai kepadatan di lintas penyeberangan utama yang sudah overload," ujar seorang pejabat Kemenhub, beberapa waktu lalu.
Jadwal Uji Coba Ditargetkan Sebelum Lonjakan Arus 2027
Kemenhub menargetkan kajian ini rampung dalam waktu dekat. Jika hasilnya layak, uji coba operasional ferry logistik rute Situbondo-Celukan Bawang akan dimulai pada akhir 2026. Target utama adalah kesiapan penuh saat menghadapi lonjakan penumpang dan kendaraan pada Nataru 2027 dan Lebaran 2027.
Dampak bagi Perekonomian Buleleng dan Sekitarnya
Pembukaan pelabuhan alternatif ini diproyeksikan mendongkrak perekonomian di kawasan Buleleng. Aktivitas bongkar muat logistik akan menyerap tenaga kerja lokal dan meningkatkan bisnis jasa di sekitar pelabuhan. Namun, hal ini juga membutuhkan kesiapan infrastruktur jalan di jalur penghubung Celukan Bawang ke pusat-pusat ekonomi di Bali Tengah dan Timur.
Kebijakan ini juga diharapkan mampu menekan biaya logistik yang selama ini tinggi akibat waktu tunggu panjang di Pelabuhan Gilimanuk. Dengan adanya dua titik masuk utama ke Bali, distribusi barang diharapkan lebih efisien.