Pencarian

Wayan Si Tokoh Pesimis di Pementasan Taman Penasar Badung, Kritik Sosial soal Adat dan Ekonomi Dibungkus Lawakan

Kamis, 18 Juni 2026 • 21:36:01 WIB
Wayan Si Tokoh Pesimis di Pementasan Taman Penasar Badung, Kritik Sosial soal Adat dan Ekonomi Dibungkus Lawakan
Wayan, tokoh pesimistis dalam pementasan Taman Penasar Badung, mengkritik ketimpangan ekonomi dan adat.

DENPASAR — Panggung Kalangan Ratna Kanda, Taman Budaya Art Centre Denpasar, berubah menjadi ruang refleksi sosial saat Sanggar Seni Semar Pegulingan Sekar Tunjung Biru dari Desa Adat Tanjung Benoa, Kecamatan Kuta Selatan, tampil sebagai duta Kabupaten Badung. Lewat karakter Wayan yang pesimistis, para seniman mengajak penonton merenungkan persoalan yang kerap dianggap tabu: ketimpangan ekonomi dan tekanan kewajiban adat.

“Wayan adalah sosok antagonis yang hanya melihat persoalan dari satu sisi. Ketika tidak menemukan istrinya di rumah, ia langsung marah tanpa mengetahui bahwa istrinya sedang melayat warga yang meninggal dunia,” ujar Ketua Sanggar, I Wayan Citra, usai pementasan.

Batu yang Direbus: Metafora Warga Terhimpit

Dalam pementasan itu, Wayan mengibaratkan dirinya seperti “batu yang direbus” — tak akan pernah berubah nasib meski terus berupaya menjaga kearifan lokal dan semangat menyama braya. Celetukan-celetukan yang dilontarkannya menggambarkan kegelisahan masyarakat yang merasa terhimpit antara tuntutan ekonomi dan kewajiban sosial keagamaan.

Isu sensitif seperti makna menyama braya, beban upacara adat, hingga ketimpangan ekonomi diangkat dalam bentuk sekar alit, sekar madya, sekar agung, sloka, hingga palawakya. Salah satu pesan yang disisipkan berasal dari Geguritan Dharma Sunyata karya I Made Menaka, karya sastra klasik Bali yang memuat ajaran etika dan filosofi Hindu.

Dari Antagonis ke Kesadaran: Pesan Keseimbangan

Seiring jalannya cerita, Wayan akhirnya sadar setelah mendengarkan nasihat Jero Kelian dan masyarakat. “Pesan yang ingin kami sampaikan adalah pentingnya menjaga keseimbangan antara yadnya dan ekonomi. Terlalu fokus mencari uang hingga melupakan yadnya tidak baik, tetapi sebaliknya, terus-menerus meyadnya tanpa memperhatikan kebutuhan keluarga juga akan menimbulkan persoalan,” jelas I Wayan Citra.

Garapan berjudul “Upahayu Atmeng Tanu” itu digarap berdasarkan naskah karya I Nyoman Wija Widastra bertajuk Wijil Akah Canging. Upahayu Atmeng Tanu berarti memelihara Sang Hyang Atma yang bersemayam dalam tubuh manusia.

Menjaga Tradisi di Tengah Minimnya Peminat Muda

Sanggar Seni Semar Pegulingan Sekar Tunjung Biru berdiri pada 9 Juli 2005 atas prakarsa seniman otodidak asal Desa Adat Tanjung Benoa. Tantangan terbesar saat ini adalah regenerasi. Pembatasan usia peserta antara 17 hingga 28 tahun menjadi kendala tersendiri. “Kami sempat mengalami kesulitan mencari personel. Ada yang masih sekolah, baru bekerja, atau sedang mempersiapkan kuliah,” ungkap I Wayan Citra.

Meski sempat frustrasi di tengah persiapan, seluruh penyaji, panembang, dan penabuh yang tampil merupakan putra-putri asli Kuta Selatan. Sebelumnya, sanggar ini pernah meraih Juara I pada Wimbakara Taman Penasar beberapa tahun lalu dan tampil dalam PKB ke-45 melalui Rekonstruksi Gamelan Tua Angklung Kakelentangan.

Bagikan
Sumber: fajarbali.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks