Pencarian

11 Rekomendasi KAWIYA dan PWI Bali untuk PKB Emas 2029 Diserahkan ke Disbud, Ini Isinya

Sabtu, 01 Agustus 2026 • 11:32:01 WIB
11 Rekomendasi KAWIYA dan PWI Bali untuk PKB Emas 2029 Diserahkan ke Disbud, Ini Isinya
Dokumen 11 klaster rekomendasi PKB Emas 2029 diserahkan KAWIYA Bali kepada Dinas Kebudayaan Provinsi Bali di Denpasar, Kamis (30/7).
11 klaster rekomendasi strategis untuk penyelenggaraan Pesta Kesenian Bali (PKB) kepada Dinas Kebudayaan Provinsi Bali di Denpasar, Kamis (30/7). Rekomendasi ini lahir dari lima seri diskusi budaya yang digelar sejak 19 Juni hingga 6 Juli 2026, sebagai bahan evaluasi menjelang PKB Emas yang akan berusia setengah abad pada 2029. ISI:

DENPASAR — Sebuah dokumen setebal puluhan halaman berpindah tangan di ruang rapat Kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Kamis (30/7). Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Ida Bagus Alit Suryana, menerima langsung dokumen itu dari Ketua KAWIYA Bali, I Putu Suryadi. Di dalamnya termuat 11 klaster rekomendasi yang dirumuskan dalam lima seri Diskusi Budaya bersama seniman, budayawan, akademisi, hingga masyarakat adat.

I Putu Suryadi menyebut seluruh rumusan itu merupakan tanggung jawab moral insan budaya dan pers terhadap festival yang hampir setengah abad menjadi etalase peradaban Bali.

"Sebanyak 11 klaster rekomendasi merupakan hasil pemikiran bersama para seniman, budayawan, akademisi, birokrat, wartawan, dan masyarakat adat. Seluruh rumusan disampaikan sebagai bahan pertimbangan dalam menyusun kebijakan penyelenggaraan PKB yang lebih adaptif, berkelanjutan, serta tetap berakar pada nilai-nilai budaya Bali menjelang PKB Emas 2029," katanya.

Mengapa Rekomendasi Ini Diajukan Sekarang?

Waktu penyerahan dokumen ini bukan kebetulan. Tiga tahun lagi, PKB memasuki usia 50 tahun. Setahun sebelumnya, pusat penyelenggaraan direncanakan pindah dari Art Center Denpasar ke Pusat Kebudayaan Bali (PKBK) di Klungkung.

Dua momentum besar itu memunculkan satu pertanyaan yang terus bergema dalam setiap diskusi: apakah PKB akan sekadar bertambah usia, atau benar-benar memasuki babak baru sejarah kebudayaan Bali?

Regenerasi Seniman dan Nasib Kesenian yang Nyaris Hilang

Diskusi pertama menghadirkan Dr. I Kadek Suartaya dan Prof. Dr. I Gede Arya Sugiartha. Keduanya mengajak peserta melihat kembali tokoh-tokoh seni sebagai aset peradaban. Regenerasi, kesejahteraan seniman, serta peran PKB sebagai panggung tahunan yang tidak selesai ketika lampu dipadamkan menjadi sorotan utama.

Pada seri kedua, Prof. Dr. Ida Ayu Trisnawati bersama I Nyoman Mariyana mengingatkan bahwa banyak kesenian Bali kini hanya hidup dalam ingatan para tetua. Jika tidak segera direkonstruksi, didokumentasikan, dan diwariskan, sebagian di antaranya mungkin hanya tinggal nama.

Teknologi dan Sejarah Panjang PKB

I Wayan Ary Wijaya bersama Dr. Anak Agung Gede Agung Rahma Putra mengangkat persoalan generasi baru. Mereka mempertanyakan bagaimana teknologi, media digital, dan seni kontemporer dapat berjalan berdampingan dengan tradisi tanpa membuat akar kebudayaan tercerabut.

Sejarah panjang PKB diurai oleh Prof. Dr. I Wayan Dibia dan Prof. Dr. I Made Bandem. Sejak pertama digelar pada 1979, festival ini tidak hanya menjadi panggung pertunjukan, tetapi juga ruang pembinaan, laboratorium kreativitas, sekaligus penanda arah kebijakan kebudayaan Bali.

Seri terakhir menghadirkan Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra bersama Drs. IGM Dwikora Putra. Mereka mengingatkan bahwa festival sebesar PKB tidak akan memiliki jejak sejarah apabila tidak didokumentasikan dengan baik. Jurnalisme budaya, dokumentasi, arsip, dan kritik seni disebut bukan pelengkap, melainkan bagian dari ekosistem kebudayaan itu sendiri.

Apa Isi 11 Klaster Rekomendasi Itu?

Dari seluruh percakapan tersebut, lahirlah sebelas klaster rekomendasi yang saling berkelindan. Beberapa usulan kunci di antaranya:

  • Memperkuat regulasi agar PKB memiliki kepastian anggaran dan tidak mudah berubah mengikuti dinamika politik.
  • Memperjelas batas antara PKB sebagai ruang pelestarian tradisi dengan Festival Seni Bali Jani sebagai ruang seni kontemporer.
  • Menghidupkan kembali penghargaan kepada para maestro dan membentuk program "Maestro dan Murid Kreatif".
  • Menyusun Bank Rekonstruksi Kesenian Bali dan membangun pusat dokumentasi seni.
  • Memperkuat sistem kuratorial serta memperluas ruang dialog antargenerasi.
  • Membuka skema pendanaan alternatif melalui CSR maupun Dana Pungutan Wisatawan Asing.

Respons Dinas Kebudayaan: Kesejahteraan Seniman Jadi Prioritas

Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Ida Bagus Alit Suryana, menyambut baik dokumen tersebut. Ia menyatakan seluruh rekomendasi akan menjadi bahan evaluasi dalam menyusun penyelenggaraan PKB pada masa mendatang.

"Setiap tahun tentu ada perubahan, mungkin harga barang naik. Kemudian yang perlu kita lihat adalah bagaimana melalui kegiatan ini kita dapat menyejahterakan seniman dan semua pihak yang terlibat dalam menyukseskan PKB," ujarnya.

Bagi Alit Suryana, keberhasilan PKB tidak semata diukur dari ramainya penonton atau megahnya panggung. Festival ini harus mampu menghadirkan kesejahteraan bagi para pelaku seni yang selama puluhan tahun menjaga denyut kebudayaan Bali.

Bagikan
Sumber: tatkala.co

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks