Cara Kerja Alat Cek Mata Berbasis Smartphone
BALI — Aksesori yang dipasang di smartphone ini memakai lensa pembesar, dua LED, dan eyepiece silikon agar gambar mata tetap konsisten. Seluruh perangkat, termasuk smartphone di dalamnya, dibanderol sekitar USD 200 atau sekitar Rp 3,3 juta. Sistem ini juga bisa dipakai di wilayah dengan koneksi internet terbatas.
Hasil Uji Klinis terhadap 1.093 Pasien
Dalam pengujian terhadap 1.093 pasien di 19 kamp mata pedesaan, tenaga kesehatan hanya butuh pelatihan tiga jam. Mereka mampu memeriksa satu mata dalam waktu kurang dari 2,5 menit, lalu mengirim fotonya ke dokter mata untuk menentukan apakah pasien perlu dirujuk.
Keputusan dokter berdasarkan foto smartphone punya tingkat kesesuaian 96 persen dengan pemeriksaan langsung, terutama untuk mendeteksi katarak. Meski begitu, sistem ini belum bisa menggantikan pemeriksaan mata lengkap karena masih kurang akurat untuk beberapa kondisi lain.
Bukan Pengganti Dokter Mata
Peneliti menegaskan posisi alat ini sebagai jembatan, bukan substitusi. Smartphone berperan sebagai alat murah untuk membawa pemeriksaan dasar lebih dekat ke masyarakat yang sulit mengakses spesialis.
Ke depan, peneliti ingin menguji sistem tersebut di wilayah lain dan mengembangkan bantuan AI untuk melakukan penyaringan awal. Pendekatan ini berpotensi relevan untuk konteks Indonesia, di mana banyak daerah terpencil masih kekurangan dokter spesialis mata.