BALI — Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim pasukannya berhasil menghantam terminal bahan bakar di Pelabuhan Al Ahmadi, Kuwait. Menurut IRGC, terminal itu menjadi lokasi pemasokan bahan bakar bagi armada militer Amerika Serikat yang beroperasi di kawasan Teluk.
Serangan gabungan rudal dan pesawat nirawak itu menyebabkan kerusakan parah di sejumlah titik. Kuwait Petroleum Corporation mengonfirmasi bahwa insiden ini memakan korban luka-luka yang kini dirawat di rumah sakit. Pihak perusahaan belum merinci jumlah pasti korban dan nilai kerugian material.
Pertahanan Udara Kewalahan Hadapi Serangan Bertubi-tubi
Sejak pagi hari, sistem pertahanan udara Kuwait terus berupaya menghalau gempuran yang datang silih berganti. Seorang pejabat jenderal angkatan darat Kuwait menyatakan bahwa pasukannya menghadapi tekanan berat karena serangan dilakukan secara simultan dari berbagai arah.
Ketegangan di kawasan sejatinya sudah meningkat sejak 8 Juli 2026, saat militer AS melancarkan serangan ke target-target di Iran. Komando Pusat Amerika Serikat (Centcom) menyebut operasi itu sebagai respons atas tindakan Iran terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz. Iran membalas dengan menyerang pangkalan-pangkalan udara AS di sejumlah negara Timur Tengah.
Gencatan Senjata Batal, Eskalasi Makin Tak Terkendali
Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 9 Juli 2026 mengumumkan bahwa gencatan senjata antara Washington dan Teheran tidak lagi berlaku. Keputusan itu membuka pintu bagi serangan balasan yang terus berlangsung hingga kini.
Rangkaian serangan ini meningkatkan kekhawatiran global terhadap keamanan kawasan. Kuwait, yang merupakan salah satu produsen minyak utama OPEC, kini menjadi medan konflik langsung. Gangguan produksi dan distribusi minyak dari negara itu berpotensi memicu lonjakan harga minyak dunia dalam waktu dekat.
Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak mentah akan berdampak langsung pada beban subsidi energi dan defisit neraca perdagangan. Pemerintah perlu mengkaji ulang asumsi makro dalam APBN jika konflik ini tak kunjung mereda.