Pencarian

Pura Luhur Uluwatu, Salah Satu Pura Sad Kahyangan di Tebing Bali

Minggu, 12 Juli 2026 • 23:33:31 WIB
Pura Luhur Uluwatu, Salah Satu Pura Sad Kahyangan di Tebing Bali

Bali memiliki banyak pura yang menyimpan nilai spiritual tinggi, dan salah satu yang paling dikenal wisatawan adalah Pura Luhur Uluwatu. Pura ini berdiri megah di atas tebing karang yang menjorok langsung ke Samudra Hindia.

Selain nilai spiritualnya, Pura Uluwatu juga dikenal luas berkat pertunjukan Tari Kecak yang digelar di kawasan ini setiap sore, menjadikannya destinasi yang memadukan wisata religi dan budaya sekaligus.

Berikut sejarah, makna, dan informasi seputar pertunjukan Tari Kecak di Pura Luhur Uluwatu yang perlu diketahui sebelum berkunjung.

Asal-usul Nama dan Sejarah Pendirian

Nama Uluwatu berasal dari gabungan kata "ulu" yang berarti ujung, atas, atau puncak, dan "watu" yang berarti batu. Secara harfiah, nama ini merujuk pada tempat suci yang dibangun di puncak batu karang.

Terdapat dua versi sejarah terkait pendirian pura ini. Versi pertama menyebutkan pura didirikan oleh Mpu Kuturan pada masa pemerintahan Marakata sekitar abad ke-11 sebagai bagian dari Pura Padma Bhuwana. Versi lain mengaitkan pembangunan pura dengan Dang Hyang Nirartha yang berasal dari Kerajaan Daha, Kediri, Jawa Timur.

Adapun peninggalan kuno berupa candi kurung atau kori gelung agung yang membatasi areal pura, diperkirakan sudah ada sejak abad ke-8, dengan perhitungan tahun Isaka sekitar 886 Masehi, menunjukkan usia kawasan ini yang sangat panjang.

Status Sebagai Pura Sad Kahyangan

Pura Uluwatu merupakan salah satu dari enam Pura Sad Kahyangan, yakni pura-pura yang dianggap sebagai pilar spiritual utama Pulau Bali dalam kepercayaan Hindu Bali.

Status ini menjadikan Pura Uluwatu bukan sekadar objek wisata, melainkan tempat yang tetap aktif digunakan untuk berbagai upacara keagamaan oleh umat Hindu di Bali hingga saat ini.

Karena statusnya yang sakral, pengunjung diwajibkan mengenakan kain dan selendang yang biasanya sudah disediakan di pintu masuk, sebagai bentuk penghormatan terhadap fungsi spiritual pura ini.

Tari Kecak, Daya Tarik Budaya di Tebing Uluwatu

Tari Kecak lahir pada era 1930-an dan sejak itu berkembang menjadi salah satu pertunjukan budaya paling dikenal dari Bali. Pertunjukan ini menggabungkan gerakan, irama, dan nyanyian vokal puluhan penari secara harmonis tanpa iringan alat musik.

Cerita yang diangkat dalam Tari Kecak adalah kisah Ramayana, khususnya perjuangan Rama menyelamatkan Dewi Sita yang diculik oleh Rahwana, dengan tokoh-tokoh seperti Rama, Sita, Laksmana, Rahwana, dan Hanoman yang tampil dalam gerakan teatrikal penuh ekspresi.

Pertunjukan Tari Kecak di Uluwatu biasanya digelar menjelang senja, dengan latar matahari terbenam di ufuk Samudra Hindia yang menambah kesan dramatis dari keseluruhan pertunjukan.

Tips Berkunjung ke Pura Uluwatu

Kawasan Pura Uluwatu juga dihuni oleh kawanan monyet liar, sehingga pengunjung disarankan untuk berhati-hati menyimpan barang bawaan seperti kacamata, topi, atau makanan yang mudah diambil oleh monyet.

Karena berdiri di atas tebing setinggi sekitar 70 meter, penting untuk tetap berada di jalur yang sudah disediakan dan tidak mendekati bibir tebing secara berlebihan demi keselamatan.

Jika ingin menyaksikan Tari Kecak, disarankan datang lebih awal untuk mendapatkan tempat duduk yang nyaman, mengingat pertunjukan ini termasuk salah satu atraksi budaya paling diminati di Bali.

Checklist Sebelum ke Pura Uluwatu

  • Kenakan kain dan selendang yang disediakan sebelum masuk area pura
  • Jaga barang bawaan dari kawanan monyet liar di sekitar tebing
  • Datang menjelang sore jika ingin menonton Tari Kecak saat matahari terbenam
  • Tetap berada di jalur yang aman, jauh dari bibir tebing
  • Siapkan tiket masuk terpisah jika ingin menyaksikan pertunjukan Tari Kecak

Informasi wisata dan berita seputar Bali lainnya bisa dibaca di beranda lensabali.com.

Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks