Kawasan Ubud dan sekitarnya menyimpan salah satu pemandangan paling khas dari Bali, yaitu Terasering Tegallalang. Sawah berundak ini terukir di lereng-lereng bukit, menciptakan pola visual yang menakjubkan.
Lebih dari sekadar keindahan visual, Tegallalang juga menjadi representasi hidup dari sistem irigasi tradisional Bali yang dikenal sebagai subak, sebuah warisan budaya yang telah diakui dunia internasional.
Berikut sejarah, sistem subak, dan pengakuan UNESCO yang melekat pada Terasering Tegallalang, salah satu ikon wisata alam Bali.
Sejarah Panjang Sawah Berundak
Menurut sejumlah catatan sejarah, terasering di kawasan ini diperkirakan sudah mulai dibentuk sejak abad ke-9, menjadikan lanskap pertanian ini berusia sekitar 1.200 tahun.
Sistem subak sendiri, menurut tradisi lisan masyarakat Bali, diwariskan oleh seorang tokoh bernama Rsi Markandeya sejak abad ke-8, menjadi fondasi awal praktik pertanian gotong royong yang masih dijalankan hingga kini.
Kawasan Tegallalang berada sekitar 9 kilometer dari Ubud, pada ketinggian sekitar 600 meter, dengan terasering yang membentang sepanjang sekitar 600 meter di sisi barat lembah Ceking.
Sistem Subak, Lebih dari Sekadar Irigasi
Subak merupakan sistem irigasi sosial yang memungkinkan pembagian air secara merata untuk sawah-sawah yang bersumber dari mata air yang sama, sehingga seluruh komunitas petani dapat memperoleh manfaat secara adil.
Sistem ini tidak hanya berfungsi sebagai metode pertanian, tetapi juga menjadi wujud nyata dari filosofi Tri Hita Karana, konsep tradisional Bali yang menekankan keseimbangan antara hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam.
Melalui subak, para petani di Tegallalang bekerja sama mengatur aliran air secara kolektif, mencerminkan nilai gotong royong yang menjadi inti dari budaya masyarakat Bali secara luas.
Pengakuan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO
Pada tahun 2012, UNESCO menetapkan sistem subak, termasuk kawasan terasering seperti Tegallalang, sebagai bagian dari Lanskap Budaya Provinsi Bali yang masuk dalam daftar Situs Warisan Dunia.
Pengakuan ini menegaskan pentingnya nilai budaya yang terkandung dalam sistem subak, bukan hanya sebagai praktik pertanian, tetapi juga sebagai warisan filosofis yang telah bertahan selama lebih dari seribu tahun.
Status UNESCO ini turut mendorong upaya pelestarian kawasan Tegallalang, mengingat nilai historis dan budayanya yang sangat penting bagi identitas Bali secara keseluruhan.
Aktivitas Pertanian yang Masih Berlangsung
Terasering Tegallalang bukan sekadar objek wisata pasif, melainkan kawasan pertanian yang masih aktif hingga kini, dengan siklus tanam, penyiraman, dan panen yang terus berlangsung sebagaimana ratusan tahun sebelumnya.
Wisatawan yang berkunjung dapat menyaksikan langsung aktivitas petani lokal yang bekerja di sawah, memberikan gambaran nyata tentang bagaimana sistem subak diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Selain sawah, kawasan ini juga dihiasi berbagai tanaman tropis seperti pohon kelapa, pisang, dan bambu, serta menjadi habitat sejumlah spesies burung seperti raja udang, kuntul, dan burung bangau kecil.
Checklist Sebelum ke Tegallalang
- Datang pagi hari untuk menghindari keramaian dan cahaya matahari yang lebih lembut
- Kenakan alas kaki yang nyaman untuk berjalan di jalur setapak pematang sawah
- Hormati aktivitas petani yang sedang bekerja di area persawahan
- Bawa air minum yang cukup mengingat area terasering cukup luas dan terbuka
- Manfaatkan spot foto yang tersedia tanpa merusak tanaman padi di sekitarnya
Informasi wisata dan berita seputar Bali lainnya bisa dibaca di beranda lensabali.com.