Pencarian

Kontainer Wuling dan BYD Menumpuk di Tanjung Priok, Importir Belum Ambil Barang

Kamis, 18 Juni 2026 • 04:19:31 WIB
Kontainer Wuling dan BYD Menumpuk di Tanjung Priok, Importir Belum Ambil Barang
Kontainer Wuling dan BYD menumpuk di Pelabuhan Tanjung Priok akibat importir belum mengambil barang.

BALI — Berdasarkan informasi yang dihimpun di lapangan, penumpukan kontainer terjadi di area penumpukan peti kemas Pelabuhan Tanjung Priok dalam beberapa pekan terakhir. Tidak ada proses administrasi bea cukai yang macet, melainkan inisiatif pengambilan barang dari pihak importir yang belum berjalan.

Bukan Masalah Bea Cukai, Tapi Logistik Internal

Sejumlah sumber di lingkungan pelabuhan menyebutkan bahwa dokumen kepabeanan untuk ribuan unit mobil tersebut sudah clear. Persoalan justru berada di sisi hilir, yaitu kesiapan importir untuk menarik kontainer dari terminal peti kemas.

“Secara administrasi tidak ada masalah. Barang sudah bisa dikeluarkan, tapi sampai sekarang masih di sana,” ujar seorang petugas yang enggan disebutkan namanya.

Dampak pada Rantai Pasok dan Dealer

Penumpukan kontainer ini secara langsung mempengaruhi ketersediaan unit di diler. Jika barang tidak segera ditarik, stok kendaraan yang seharusnya sudah sampai ke konsumen menjadi tertunda. Padahal, permintaan untuk model-model listrik seperti Wuling Air ev dan BYD Dolphin sedang dalam tren naik di kuartal pertama 2025.

Belum ada pernyataan resmi dari pihak Wuling Motors maupun BYD Motor Indonesia mengenai penyebab keterlambatan pengeluaran barang ini. Namun, dugaan sementara mengarah pada penyesuaian strategi distribusi atau masalah arus kas internal importir.

Biaya Tambahan Mengintai Importir

Kontainer yang menumpuk di pelabuhan otomatis akan dikenakan biaya penumpukan atau storage oleh operator terminal. Semakin lama barang berada di pelabuhan, semakin besar biaya yang harus ditanggung importir. Dalam skala ratusan kontainer, biaya ini bisa mencapai miliaran rupiah per bulan.

Kondisi ini juga berpotensi memicu kenaikan harga jual kendaraan jika biaya logistik tambahan tersebut dibebankan ke konsumen. Namun, hal itu masih bersifat spekulasi sampai ada konfirmasi resmi dari ATPM.

Kapan Kontainer Mulai Bergerak?

Hingga berita ini diturunkan, belum ada jadwal pasti kapan proses pengeluaran barang akan dimulai. Pengamat logistik menilai bahwa kelambatan semacam ini biasanya terkait dengan koordinasi antara distributor utama dan perusahaan pelayaran.

“Yang penting sekarang adalah komunikasi antara importir dan operator pelabuhan. Kalau tidak segera diambil, bisa terjadi kemacetan operasional di Priok,” ujar pengamat logistik dari Universitas Indonesia, Agus Purnomo.

Para konsumen yang sudah melakukan pemesanan diimbau untuk bersabar dan menanyakan langsung update estimasi pengiriman ke dealer masing-masing.

Bagikan
Sumber: cnnindonesia.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks