BALI — Kasiyono, yang menjabat sebagai Kepala Desa Wonosari sejak 2016, mewarisi dua kondisi yang bertolak belakang: potensi wisata Gua Tapak Raja yang besar dan kerusakan lingkungan akibat operasi PT United Coal Indonesia yang berlangsung dari 2008 hingga 2012. "Saya berpikir bagaimana potensi ini bisa berkembang dan masalah bekas tambang ini justru menjadi berkah bagi masyarakat," ujarnya, Kamis (11/6/2026).
Stalaktit Tapak Raja dan Lorong Ritual di Dalam Gua
Gua Tapak Raja, yang juga dikenal dengan nama Gua Bea dan Gua Malempaken, menyimpan stalaktit besar menyerupai telapak kaki manusia. Masyarakat setempat meyakini bentuk itu sebagai perwujudan tapak kaki seorang raja dari Kerajaan Sadurengas, cikal bakal Kerajaan Paser. "Di dalam gua itu ada stalaktit yang cukup besar menyerupai kaki manusia," kata Kasiyono.
Di bagian terdalam gua terdapat lorong yang dahulu digunakan untuk ritual pertapaan para bangsawan dan tokoh kerajaan. Tradisi itu dilanjutkan oleh Datuk Peut, seorang tabib Suku Paser yang memanfaatkan tumbuhan obat di sekitar kawasan. "Beliau sangat fokus pada ilmu pengobatan. Kalau ada penyakit yang sulit disembuhkan, beliau melakukan ritual belian, semacam tarian dan doa-doa," jelas Kasiyono.
Sepuluh Spesies Kelelawar dan Jalur Trekking Sepanjang 200 Meter
Kawasan hutan di sekitar gua menjadi habitat burung enggang, simbol Kalimantan, serta sedikitnya sepuluh jenis kelelawar. Delapan di antaranya merupakan pemakan buah atau codot, sementara dua lainnya pemakan serangga. "Nanti kalau masuk ke dalam, pengunjung bisa melihat berbagai jenis kelelawar," ujar Kasiyono.
Pemerintah desa telah membangun jalur trekking sepanjang 200 meter untuk memudahkan wisatawan. "Alhamdulillah sekarang jalannya sudah aman dan nyaman untuk pengunjung," katanya. Pengunjung diwajibkan mematuhi pantangan seperti tidak mencoret dinding gua, membuang sampah sembarangan, atau berkata kasar.
Gotong Royong Pemulihan Lahan Bekas Tambang
Di belakang kawasan wisata, sebuah danau bekas galian tambang batu bara menjadi saksi bisu kerusakan masa lalu. Kasiyono bersama pemuda desa memulai penanaman pohon sengon secara bertahap tanpa menunggu bantuan pemerintah. Pohon-pohon itu kini sudah dapat dipanen.
Gerakan berbasis masyarakat itu mendapat perhatian dari Kementerian Lingkungan Hidup, yang kemudian memberikan berbagai bantuan untuk pengembangan Desa Wonosari. Kasiyono menegaskan bahwa kepercayaan masyarakat terhadap alam harus dijaga: "Yang penting kita menghormati alam dan menjaga kebersihan."