DENPASAR — Nilai tukar Ethereum ambrol ke level USD 1.621, meninggalkan level psikologis USD 1.700 yang sempat bertahan selama sepekan terakhir. Aksi ambil untung dan kekhawatiran akan kebijakan moneter ketat di Amerika Serikat menjadi katalis negatif yang mendorong investor melepas aset kripto mereka.
Mengapa Harga ETH Terus Tertekan?
Data pasar menunjukkan volume jual Ethereum melonjak signifikan dalam 24 jam terakhir. Para analis menilai sentimen risk-off masih mendominasi, di mana investor memilih beralih ke aset safe haven seperti dolar AS atau emas.
“Koreksi ini wajar setelah kenaikan beberapa pekan lalu. Namun, tekanan jual yang berkelanjutan bisa membawa ETH menguji support di USD 1.550,” ujar seorang pengamat pasar kripto di Bali, yang enggan disebut namanya.
Dampak ke Investor Kripto di Bali
Penurunan harga Ethereum langsung terasa di kalangan komunitas kripto di Pulau Dewata. Banyak investor ritel yang membeli ETH di harga rata-rata USD 1.700-1.800 kini harus menahan posisi rugi (unrealized loss).
Beberapa platform exchange lokal di Indonesia mencatat peningkatan jumlah order jual dari wilayah Bali sejak pagi hari. Volume transaksi harian di sejumlah exchange tercatat naik hingga 15 persen dibandingkan hari sebelumnya.
Level Kunci yang Perlu Dipantau
Para trader kini fokus pada level support USD 1.600. Jika tembus, Ethereum berpotensi turun lebih dalam ke kisaran USD 1.500. Sebaliknya, jika harga mampu bertahan di atas USD 1.620, peluang rebound terbuka menuju resisten USD 1.680.
Pasar kripto secara keseluruhan juga tertekan. Bitcoin, sebagai aset kripto utama, ikut terkoreksi ke bawah level USD 28.000, menambah sentimen negatif di seluruh pasar.
Belum ada pernyataan resmi dari regulator terkait, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) maupun Bappebti, mengenai fluktuasi harga ini. Namun, investor diimbau tetap waspada dan tidak melakukan aksi panik jual.