TABANAN — Manajer DTW Jatiluwih I Ketut Purna mengatakan pihaknya kini menawarkan pengalaman langsung kepada wisatawan, seperti menanam padi di sawah terasering, treking, hingga bersepeda mengelilingi kawasan warisan dunia UNESCO itu.
"Kami buat aktivitas wisata agar durasi wisata lebih lama, bukan satu atau dua jam, setelah itu pergi," kata Purna di Tabanan, Senin.
Paket Atraksi dan Dampak Ekonomi ke Warga
Dengan paket atraksi baru ini, wisatawan diharapkan menginap lebih lama dan membelanjakan uangnya di homestay, restoran, hingga warung kecil yang menjual buah dan makanan ringan di sekitar lokasi. Saat ini, terdapat sekitar 70 kamar homestay yang dikelola warga di kawasan Jatiluwih.
Pendapatan daerah pun ikut terdongkrak, mulai dari tiket masuk, jasa pemandu wisata, hingga pengemudi wisata lokal. "Di kawasan ini total ada sekitar 70 kamar homestay," imbuh Purna.
Menyiasati Penurunan Turis Akibat Konflik Timur Tengah
Langkah diversifikasi atraksi ini menjadi strategi pengelola di tengah tekanan eksternal. Purna mengakui perang Iran-Amerika Serikat dan Israel berdampak langsung pada tingkat kunjungan harian. Rata-rata kunjungan wisatawan mancanegara turun dari sekitar 1.500 orang menjadi 1.200 orang per hari.
Mayoritas turis asing yang datang ke Jatiluwih berasal dari Eropa, terutama Prancis, Jerman, Italia, dan Spanyol. Rute penerbangan mereka melewati wilayah Timur Tengah yang kini rawan gangguan.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Bali juga mencatat penurunan kunjungan turis asing secara umum. Selama Januari-Mei 2026, kunjungan turis asing ke Bali mencapai 2,59 juta atau turun 1,77 persen dibandingkan periode sama 2025 yang mencapai 2,64 juta.
Perluasan Pasar ke Asia dan Promosi Digital
Untuk mengompensasi penurunan dari Eropa, pengelola Jatiluwih memperluas pangsa pasar ke wisatawan domestik dan mancanegara dari Asia, terutama India dan Korea Selatan yang mulai tumbuh.
Pengelola juga menggelar temu bisnis atau table top dengan biro perjalanan wisata. Promosi melalui media sosial gencar dilakukan untuk menangkap peluang pasar yang lebih luas, termasuk segmen anak muda.
Desa Jatiluwih di Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, telah ditetapkan sebagai situs warisan dunia UNESCO pada 2012. Kawasan terasering persawahan dengan sistem subak dan latar belakang Gunung Batukaru tetap lestari meski menjadi daerah tujuan wisata utama di Bali.