DENPASAR — Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali I Wayan Sumarajaya mewakili Gubernur Bali membuka Bali Tourism Award ke-11 Tahun 2026 di The Meru, Sanur, Senin (14/9) malam. Dalam sambutannya, Sumarajaya menegaskan pariwisata di Bali bukan hanya soal ekonomi, melainkan napas kehidupan masyarakat yang telah diwariskan turun temurun.
Per Agustus 2026, kunjungan wisatawan ke Bali tercatat 4,6 juta. Angka itu disebut masih stabil dan tumbuh dibandingkan periode yang sama tahun 2025.
Kualitas Pelayanan Jadi Penentu Utama
Sumarajaya menempatkan kualitas pelayanan sebagai faktor penentu keberlanjutan pariwisata Bali. Menurutnya, hospitality tidak berhenti pada hotel yang bagus.
"Tugas kita bersama bagaimana mampu menghadirkan pariwisata yang berkualitas serta memberikan manfaat bagi masyarakat dimana kualitas pelayanan menjadi faktor-faktor penentu," ujarnya.
Ia menambahkan wisatawan perlu merasa nyaman dan memperoleh pengalaman baik selama berwisata. Standar itu berlaku di seluruh lini layanan, bukan hanya akomodasi berbintang.
Penghargaan yang Menyentuh Sisi Keberlanjutan
Penyelenggaraan Bali Tourism Award ke-11 dinilai Sumarajaya tidak hanya menyentuh ranah komersial. Ajang ini juga menilai kualitas pelayanan dan keberlanjutan, sejalan dengan visi misi pengembangan pariwisata Bali.
Penilaian semacam itu menempatkan pelaku usaha pariwisata di Bali pada dua tuntutan sekaligus: menjaga mutu layanan dan memastikan dampaknya tidak merusak lingkungan serta budaya setempat.
Kolaborasi dan Adat Budaya sebagai Fondasi
Menghadapi tantangan kepariwisataan ke depan, Sumarajaya mendorong kolaborasi seluruh pemangku kepentingan. Pariwisata Bali dinilainya harus terus maju dan berkelanjutan.
"Dalam menghadapi tantangan kepariwisataan kedepan kita harus berkolaborasi bersama agar pariwisata Bali terus maju dan berkelanjutan. Mari kita bangun bersama pariwisata Bali yang berkualitas internasional tanpa meninggalkan adat budaya dan tradisi masyarakat lokal," tandasnya.
Seruan itu menyiratkan posisi adat dan tradisi lokal sebagai fondasi, bukan penghambat, dalam pengembangan pariwisata Bali ke depan.