AirNav Indonesia menjalin kerja sama strategis dengan pabrikan pesawat global Boeing untuk meningkatkan efisiensi dan kapasitas pergerakan pesawat di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali. Langkah ini diambil karena bandara tersebut belum memiliki taxiway paralel, sehingga manajemen pergerakan pesawat di darat dinilai perlu lebih taktis dan terintegrasi. Kapasitas layanan saat ini tercatat sekitar 33 pergerakan pesawat per jam dan ditargetkan melampaui angka tersebut, terutama pada jam-jam sibuk.
TANGERANG — Direktur Utama AirNav Indonesia Capt Avirianto Suratno menyatakan bahwa kerja sama dengan Boeing difokuskan pada pengurangan kepadatan pergerakan pesawat di darat sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan landas pacu. Menurut dia, peningkatan kapasitas di Bali tidak bisa ditunda karena keterbatasan infrastruktur yang ada.
"Di Bali itu memang harus ada peningkatan karena tidak ada taxiway yang paralel. Sehingga nanti Boeing akan membantu bagaimana kita bisa meningkatkan khususnya keselamatan, penerbangan, dan efisiensi waktu di darat," kata Avirianto di Tangerang, Selasa.
Mengapa Bandara Ngurah Rai Butuh Penanganan Khusus
Absennya taxiway paralel membuat pergerakan pesawat di darat harus dikelola dengan pendekatan yang lebih terintegrasi antara proses keberangkatan dan kedatangan. Kondisi ini menuntut koordinasi ketat agar antrean pesawat tidak menumpuk, khususnya saat jam sibuk.
Kapasitas layanan Bandara Ngurah Rai saat ini berada di kisaran 33 pergerakan pesawat per jam. Dengan menggabungkan teknologi pemodelan digital Boeing dan sistem operasional AirNav Indonesia, angka tersebut ditargetkan bisa ditingkatkan melampaui kapasitas eksisting.
"Yang kami lihat bukan hanya kondisi operasi saat ini, tetapi juga berbagai opsi yang memungkinkan pergerakan pesawat lebih efisien. Setiap opsi akan diuji melalui pemodelan dan simulasi sehingga rekomendasi yang dihasilkan memiliki dasar analisis yang kuat," ujar Avirianto.
Pemodelan TAAM dan Observasi Langsung di Lapangan
Tahap awal studi dilakukan melalui pemodelan operasi menggunakan baseline model TAAM untuk merepresentasikan kondisi Bandara I Gusti Ngurah Rai saat ini. Model tersebut memakai jadwal penerbangan 24 jam yang mewakili operasional normal, mencakup konfigurasi east flow dan west flow.
Hasil pemodelan berupa data statistik operasional dan visualisasi empat dimensi (4D). AirNav Indonesia dan Boeing juga akan melakukan observasi langsung bersama Subject Matter Experts dari unsur pengendalian lalu lintas udara, operasi bandara, maskapai, ground handling, dan perencanaan bandara.
Observasi mencakup menara ATC, fasilitas radar terminal, pusat operasi ground handling, pusat operasi maskapai, unit perencanaan dan pembangunan bandara, serta area sisi udara (airside). Setelah baseline model divalidasi dengan data operasional AirNav Indonesia, kedua pihak akan menyusun alternatif peningkatan operasi.
Alternatif tersebut meliputi tata letak, prosedur pergerakan di darat, penggunaan taxiway dan area parkir pesawat, serta pengurutan pergerakan dan koordinasi. Boeing diperkirakan akan memodelkan hingga tiga skenario untuk menilai kinerja masing-masing opsi sebelum dipertimbangkan untuk diterapkan.
Pemerintah Dukung Penuh, Dividen AirNav Tidak Ditarik
Kepala Sub Direktorat Pengawasan dan Data Keselamatan Penerbangan Direktorat Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Indra Gunawan menilai kerja sama AirNav dan Boeing memperkuat komitmen menghadirkan layanan kenavigasian yang optimal. Pemerintah mendukung langkah ini melalui kebijakan peniadaan penarikan dividen.
"Sampai hari ini kebijakan pemerintah ke AirNav itu enggak menarik sama sekali dividen. Jadi semua pendapatan itu memang diserahkan kepada AirNav untuk mengembangkan pelayanan di bidang kenavigasian," kata Indra.
Ia menambahkan bahwa pembenahan dan inovasi yang tengah dilakukan merupakan bagian dari ikhtiar AirNav memberikan pelayanan terbaik, terutama di kawasan strategis pariwisata seperti Bali.
"Harapan kita nantinya AirNav dengan Boeing ini sekaligus wadah untuk teman-teman AirNav itu bisa transfer knowledge, sehingga nanti untuk yang di bandara-bandara lain, diharapkan teman-teman AirNav sendiri sudah bisa mendesain nanti ke depan, seperti juga yang terjadi di BUMN-BUMN yang lain," ujar Indra.