BADUNG — Gubernur Bali Wayan Koster menilai pelaksanaan Atma Wedana secara massal di Desa Adat Bualu menjadi model ideal dalam menjaga tradisi tanpa membebani masyarakat secara personal. Ia menyebut upacara yang diikuti 18 sawa dalam prosesi Atma Wedana serta 114 sawa pada upacara nyekah itu sebagai wujud nyata kolaborasi sosial warga.
“Atma Wedana ini solusi yang sangat baik. Bersamaan dilakukan untuk 18 sawa. Bagus sekali dan harus terus dikembangkan sebagai bentuk gotong royong agar pelaksanaan upacara tidak menjadi beban personal bagi masyarakat,” ujar Koster di sela prosesi, Minggu (2/8).
Dalam rangkaian upacara tersebut, Koster secara simbolis melaksanakan prosesi ngayeg tirta yang diiringi para pemangku. Prosesi ini menjadi bagian dari penyempurnaan atma leluhur dalam tradisi Hindu di Bali.
Dukungan Pemprov: Hibah Aset hingga Lahan Produktif untuk Desa Adat
Koster menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi Bali memperkuat desa adat bukan hanya melalui dukungan seremonial, tetapi juga kebijakan konkret. Salah satunya dengan menghibahkan aset pemerintah yang tidak produktif kepada desa adat agar dikelola secara profesional.
“Saat Bendesa dan panitia beraudiensi kepada saya, saya langsung setuju membantu. Seperti saat pembangunan TPS3R maupun hibah tanah milik Pemprov. Kalau ada lahan pemerintah yang tidak produktif dan lebih bermanfaat dikelola desa adat, saya berikan kepada desa adat agar lebih produktif. Kita ngayah bersama desa adat,” katanya.
Koster mencontohkan keberhasilan optimalisasi aset di kawasan ITDC. Nilai kerja sama pengelolaan lahan di kawasan pariwisata itu meningkat signifikan dari sekitar Rp7 miliar per tahun menjadi Rp57 miliar per tahun setelah tata kelola dibenahi.
“Pengelolaan seperti ini akan terus ditingkatkan agar memberikan manfaat maksimal bagi pemerintah maupun masyarakat. Desa adat juga silakan mengajukan hibah atas nama desa adat dengan aturan yang jelas sehingga aset bisa menghasilkan dan dirawat dengan baik,” ujarnya.
Desa Adat Bualu di Kawasan Strategis Nusa Dua: Antara Pariwisata dan Tradisi
Lokasi Desa Adat Bualu yang berada di kawasan komersial dan pariwisata Nusa Dua menjadi perhatian khusus Koster. Ia menilai desa adat di wilayah strategis harus diperkuat agar mampu menghadapi perkembangan zaman tanpa kehilangan jati diri.
“Desa adat harus kuat. Apalagi Desa Bualu berada di kawasan komersial dan pariwisata. Gotong royong antara desa adat, pemerintah kabupaten dan Pemerintah Provinsi harus terus dijaga. Saya yakin dengan menjaga desa adat, leluhur akan memberikan jalan yang baik bagi Bali ke depan,” katanya.
Koster menambahkan, desa adat tidak hanya bertanggung jawab pada aspek sekala (nyata), tetapi juga niskala (spiritual). Penguatan keduanya menjadi kunci keberlanjutan budaya Bali di tengah tekanan modernisasi.
Rangkaian Upacara dan Biaya Capai Rp1,7 Miliar
Ketua Panitia atau Prawartaka Karya, Ketut Nesa, menyampaikan apresiasi atas dukungan Gubernur Bali serta seluruh pihak yang membantu kelancaran upacara. Ia merinci rangkaian karya diawali prosesi pengabenan pada 16 Juli 2026, sedangkan upacara nyekah dijadwalkan berlangsung pada 7 Agustus 2026.
Seluruh rangkaian kegiatan menelan biaya sekitar Rp1,7 miliar yang berasal dari urunan krama Desa Adat Bualu dan dukungan donasi berbagai pihak. Gubernur Koster secara langsung menyerahkan bantuan uang tunai Rp25 juta sebagai simbolisasi dukungan pemerintah.
Upacara Atma Wedana tahun 2026 di Desa Adat Bualu dipuput oleh Ida Pedanda Putra Telaga. Upacara ini merupakan bagian dari pelaksanaan Pitra Yadnya yang bertujuan menyucikan sekaligus menyempurnakan atma para leluhur sebagai wujud sradha dan bhakti umat Hindu.