BALI — Krisis air bersih melanda lima desa dan kelurahan di Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang. Kapolsek Tigaraksa AKP I Made Artana menyebutkan desa yang terdampak meliputi Kadu Agung, Margasari, Pasir Bolang, Pasir Nangka, dan Cileles.
"Untuk di Kecamatan Tigaraksa sendiri total ada lima desa dan kelurahan yang terdampak, dengan jumlah KK sekitar 700 KK yang perlu bantuan," kata Made, Selasa (4/8).
Sumur Gali Mengering, Warga Andalkan Air Galon untuk Masak dan Minum
Di Desa Pasir Bolang, pantauan di lokasi menunjukkan puluhan ibu rumah tangga membawa galon dan wadah penampung air untuk mengantre bantuan. Ayi Fatimah, warga Desa Pasir Bolang, menuturkan sumur gali yang menjadi sumber utama air warga mulai kehilangan debit.
"Udah dua bulan kekeringan, sebenarnya air ada cuma kecil keluarnya dikit, kalau misalkan hujan kan airnya banyak, soalnya airnya dari sumur gali jadinya kecil," ujarnya.
Selama dua bulan terakhir, warga baru sekali menerima bantuan air bersih. Untuk memenuhi kebutuhan memasak dan minum, Ayi terpaksa membeli air galon setiap hari.
"Beli air galon, sehari 3 sampai 4 galon, harganya 15 sampai 20 ribu sehari tergantung abis airnya, itu buat masak sama minum, MCK," jelasnya.
Bantuan Air Baru Sekali Salur, Kebutuhan Diprediksi Meningkat
BPBD Kabupaten Tangerang telah menyalurkan bantuan air bersih ke lokasi terdampak. Namun, frekuensi penyaluran masih jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan harian ratusan keluarga yang bergantung pada sumur gali.
Kapolsek Tigaraksa memprediksi musim kemarau ekstrem masih berpotensi berlangsung hingga Oktober 2026. Kondisi ini diperkirakan akan meningkatkan kebutuhan air bersih di sejumlah wilayah kecamatan.
"Karena memang dampak dari musim kemarau panjang, makanya kami melakukan pendataan warga yang terdampak," jelas Made.
Pendataan yang dilakukan kepolisian dan BPBD bertujuan memetakan jumlah warga yang membutuhkan bantuan secara akurat. Langkah ini menjadi dasar penjadwalan distribusi air bersih berikutnya di tengah prediksi kemarau yang masih panjang.