BALI — Kontrak acuan CPO untuk pengiriman Agustus di Bursa Malaysia Derivatives Exchange ditutup melemah 1,02% ke level 4.554 ringgit Malaysia per ton pada perdagangan Jumat. Namun, secara mingguan, kontrak tersebut masih menguat tipis 0,42%.
Pola ini menunjukkan bahwa meskipun sentimen negatif muncul di akhir pekan, fundamental pasar masih cukup kuat untuk mendorong harga lebih tinggi dalam sepekan. Kenaikan tiga pekan beruntun ini menjadi sinyal optimisme di tengah volatilitas yang masih tinggi.
Dua Sentimen Negatif yang Menekan Harga
Tekanan utama datang dari pelemahan harga minyak nabati saingan di Bursa Dalian, China. Minyak kedelai dan minyak rapeseed yang lebih murah membuat daya saing CPO terkoreksi di pasar global.
Selain itu, pelaku pasar juga mulai resah dengan rencana pemerintah Indonesia yang akan mengatur ulang tata niaga ekspor sejumlah komoditas strategis, termasuk minyak sawit. Aturan baru ini akan menempatkan ekspor di bawah kendali langsung pemerintah pusat, memicu kekhawatiran akan potensi hambatan birokrasi dan perubahan kebijakan mendadak.
Stok Malaysia Diprediksi Naik, Beban Tambahan bagi Harga
Tekanan tambahan datang dari ekspektasi meningkatnya persediaan minyak sawit di Malaysia, produsen utama dunia setelah Indonesia. Survei Reuters memperkirakan stok CPO Malaysia pada Mei akan naik untuk bulan kedua secara beruntun.
Kenaikan stok ini biasanya menjadi sinyal bahwa permintaan belum mampu menyerap produksi yang berlimpah, sehingga berpotensi menahan laju kenaikan harga dalam jangka pendek.
Dengan kombinasi pelemahan harga minyak nabati saingan, kekhawatiran aturan ekspor baru, dan potensi kenaikan stok di Malaysia, pergerakan harga CPO dalam sepekan ke depan akan sangat bergantung pada kejelasan kebijakan pemerintah Indonesia dan data permintaan dari negara-negara importir utama seperti India dan China.