BALI — Spanyol datang ke Piala Dunia 2026 dengan status juara bertahan Eropa. Namun, prestasi itu tak membuat Luis de la Fuente lengah. Ia justru menyoroti bahaya terbesar yang bisa menghancurkan peluang timnya: ego pemain bintang.
Dalam daftar yang dirilis pekan ini, tak ada satu pun pemain Real Madrid. Meski begitu, skuad Matador tetap dihuni nama-nama besar seperti Lamine Yamal, Pedri, Gavi, Nico Williams, Rodri, hingga kiper Arsenal, David Raya. Aymeric Laporte dan Mikel Merino juga masuk dalam rombongan.
Peringatan Keras Pelatih: Tim di Atas Segalanya
De la Fuente tak main-main dengan hierarki tim. Ia menegaskan bahwa kepentingan kolektif harus selalu menang di atas ambisi pribadi. “Bagi saya, kata kuncinya adalah 'tim'. Hal itu harus didahulukan di atas talenta individu,” ujarnya dalam wawancara dengan situs resmi FIFA.
Pernyataan itu bukan basa-basi. Pelatih asal Haro itu tahu betul bahwa timnya dipenuhi pemain yang biasa menjadi pusat perhatian di klub masing-masing. “Talenta individu saja tidak cukup untuk memenangi kompetisi besar. Anda bisa memenangi pertandingan, tetapi tidak untuk turnamen,” tegasnya.
Warisan 2010 dan Target Mengulang Sejarah
Spanyol terakhir kali mengangkat trofi Piala Dunia pada 2010 di Afrika Selatan. Sejak saat itu, performa mereka di turnamen empat tahunan itu cenderung mengecewakan. Namun, gelar Euro 2024 menjadi sinyal kebangkitan yang nyata.
De la Fuente percaya bahwa kelompok pemain saat ini telah memahami filosofi yang ia tanamkan. “Kelompok ini telah ditanamkan pemahaman bahwa kerja sama tim adalah salah satu kekuatan terbesar kami,” katanya.
Piala Dunia 2026: Format Baru, Tantangan Baru
Turnamen edisi 2026 akan menjadi yang pertama dengan format 48 tim. Spanyol tergabung di Grup E bersama Brasil, Selandia Baru, dan Republik Demokratik Kongo. Laga pembuka mereka dijadwalkan berlangsung di Stadion MetLife, New Jersey, pada Juni mendatang.
Dengan materi pemain yang mumpuni dan tekanan sebagai unggulan, De la Fuente sadar bahwa kekompakan adalah satu-satunya jalan. “Kepentingan kolektif harus selalu berada di depan kepentingan individu. Itulah standar perilaku yang kami harapkan,” pungkasnya.