BALI — Toyota Motor Manufacturing Indonesia mengekspor 223.696 unit mobil utuh sepanjang Januari–September 2026, setara 60,3% dari total ekspor CBU nasional 371.260 unit. Realisasi itu tumbuh 2,5% dibanding periode sama tahun lalu, sementara ekspor model hybrid melesat 64% menjadi 25.752 unit.
Sepanjang tiga kuartal pertama 2026, Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) mengirim 223.696 unit kendaraan utuh atau Completely Built-Up (CBU) ke pasar luar negeri. Angka itu menempatkan Toyota sebagai pemain dominan di lini ekspor mobil utuh nasional, dengan pangsa 60,3% dari total 371.260 unit yang dikirim seluruh pabrikan Indonesia.
Pasar tujuan mencakup kawasan Asia, Amerika, Timur Tengah, Afrika, Australia, dan Oseania. Sejak ekspor perdana pada 1987 hingga September 2026, Toyota Indonesia mencatat akumulasi 3.375.490 unit kendaraan utuh ke lebih dari 100 negara.
Hybrid Jadi Motor Pertumbuhan Baru
Segmen elektrifikasi mencatat lonjakan paling tajam. Ekspor Toyota Kijang Innova Zenix HEV dan Yaris Cross HEV mencapai 25.752 unit hingga kuartal III 2026, tumbuh 64% dari periode yang sama tahun sebelumnya.
Wakil Presiden Direktur TMMIN I Nyoman Winaya Adnyana menyebut perkembangan ini membuka ruang bagi industri nasional untuk masuk lebih dalam ke rantai pasok kendaraan elektrifikasi.
"Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi peluang untuk terus meningkatkan kapabilitas manufaktur dan rantai pasok, sehingga Indonesia tidak hanya menjadi pasar bagi kendaraan elektrifikasi, tetapi juga dapat mengambil bagian dalam produksi dan ekspor kendaraan dengan teknologi tersebut," kata Nyoman.
TMMIN menargetkan realisasi ekspor rakitan baterai kendaraan hybrid atau HEV battery pack assembly pada paruh kedua 2026. Perusahaan juga berencana mengirim komponen otomotif untuk kebutuhan purnajual langsung ke Amerika Serikat.
Bukan Hanya Mobil Utuh
Keranjang ekspor Toyota tidak berhenti di kendaraan jadi. Perseroan juga mengirim kendaraan dalam bentuk terurai atau Completely Knocked-Down (CKD), komponen kendaraan, mesin beserta komponennya, hingga peralatan produksi berupa dies dan jig.
Dalam kegiatan manufakturnya, TMMIN didukung 760 pemasok dari Tier 1 hingga Tier 3 dan melibatkan sekitar 360.000 tenaga kerja dalam ekosistem produksi. Pada pameran Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41, perusahaan menampilkan Veloz Hybrid Electric Vehicle dalam bentuk cut body untuk memperlihatkan kemampuan manufaktur dalam negeri.
FTA dan Primaniyarta Awards 2026
Pemanfaatan perjanjian perdagangan bebas menjadi salah satu kunci ekspansi. TMMIN memakai Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA), ASEAN Trade in Goods Agreement (ATIGA), serta Indonesia-United Arab Emirates Comprehensive Economic Partnership Agreement (IUAE-CEPA) untuk membuka akses pasar.
Presiden Direktur TMMIN Nandi Julyanto menyatakan pencapaian ini bagian dari perjalanan panjang pengembangan manufaktur otomotif nasional. Ia berharap kerja sama pemerintah membuka akses ke pasar baru.
"Sehingga produk otomotif buatan Indonesia dapat menjangkau lebih banyak negara dan semakin berdaya saing di pasar global," ujar Nandi.
Atas pemanfaatan perjanjian dagang tersebut, TMMIN meraih Primaniyarta Awards 2026 kategori Eksportir Pemanfaat FTA. Penghargaan diserahkan Menteri Perdagangan Budi Santoso dalam rangkaian TEI ke-41 di ICE BSD, Tangerang, Banten, Rabu (14/10).
Arti bagi Industri dan Pemasok Lokal
Dominasi Toyota di lini ekspor CBU memberi efek berganda ke jaringan pemasok komponen dalam negeri. Dengan rencana ekspor baterai hybrid dan komponen purnajual ke Amerika Serikat, kebutuhan kapasitas produksi Tier 1 hingga Tier 3 berpotensi naik pada semester kedua 2026.
Bagi pelaku industri, sinyal yang perlu dicermati adalah pergeseran komposisi ekspor ke kendaraan elektrifikasi. Pertumbuhan 64% di segmen hybrid menunjukkan permintaan pasar global bergerak ke arah teknologi tersebut, dan pemasok yang belum masuk rantai pasok elektrifikasi berisiko tertinggal.