BADUNG — Pemerintah Kabupaten Badung meneguhkan komitmen terhadap perdamaian dunia dan toleransi global lewat doa bersama lintas agama di Monumen Ground Zero, Jalan Legian, Kuta. Kegiatan khidmat tersebut digelar untuk memperingati 24 tahun Tragedi Bom Bali I (2002) sekaligus mengenang peristiwa Bom Bali II (2005).
Acara sarat emosional dan kemanusiaan itu dihadiri perwakilan konsulat jenderal negara sahabat, anggota DPD RI, perwakilan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), serta para penyintas dan keluarga korban.
Museum Perdamaian Bali Dipercepat Pembangunannya
Mewakili Bupati Badung, Asisten Bidang Administrasi Umum Kabupaten Badung, I Wayan Wijana, menegaskan peringatan tahunan ini dimaksudkan sebagai ruang penghormatan sakral dan sarana merawat kerukunan, bukan sekadar membuka kembali luka lama. Sebagai bentuk komitmen nyata, Pemkab Badung tengah mempercepat pembenahan fasilitas edukasi sejarah.
"Sebagai bentuk penghormatan dan wadah edukasi, Pemkab Badung sedang membangun Museum Perdamaian Bali. Mudah-mudahan tahun ini bisa diselesaikan," ujar Wayan Wijana.
Tri Hita Karana dan Tat Twam Asi Jadi Benteng Kultural
Wijana menekankan nilai-nilai filosofi lokal masyarakat Bali, seperti Tri Hita Karana dan Tat Twam Asi ("aku adalah kamu"), harus terus dijadikan benteng pertahanan kultural dalam membendung paham radikalisme. Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat, mulai dari desa adat, pecalang, hingga Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), untuk bersinergi menjaga keamanan dan kedamaian sektor pariwisata.
"Tidak ada satu agama pun yang mengajarkan kekerasan. Dari Badung, kita ingin menyampaikan pesan kepada dunia bahwa Bali aman, damai, dan terbuka untuk semua orang," tambahnya.
Dukungan Moral Berkelanjutan bagi Keluarga Korban
Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Badung selaku Ketua Panitia, Ida Bagus Putu Mas Arimbawa, menambahkan bahwa selain memberikan dukungan moral yang berkelanjutan bagi keluarga korban, agenda ini menjadi momentum untuk memperkuat fondasi kemanusiaan di tengah keragaman.
"Tragedi masa lalu menjadi pengingat bahwa persatuan, penghormatan terhadap perbedaan, dan kepedulian antarsesama adalah modal utama mewujudkan Bali yang aman dan beradab," tutup Mas Arimbawa.
Peringatan 24 tahun Bom Bali I ini menutup rangkaian agenda doa bersama yang menyatukan berbagai elemen masyarakat dan perwakilan negara sahabat di kawasan Legian, Kuta.