Pencarian

Pedagang Perempuan Pasar Badung Tahan Harga di Tengah Inflasi Denpasar 3,46 Persen

Sabtu, 10 Oktober 2026 • 09:18:01 WIB
Pedagang Perempuan Pasar Badung Tahan Harga di Tengah Inflasi Denpasar 3,46 Persen
Pedagang perempuan menata dagangan di Pasar Badung, Denpasar, Bali.

DENPASAR — Di Pasar Badung, aktivitas dagang dimulai jauh sebelum matahari terbit. Bau kencur yang ditumbuk kasar dan aroma daging basah di atas lantai semen menandai bahwa roda ekonomi kota sudah berputar sejak dini hari. Namun di balik riuh rendah itu, para pedagang perempuan menanggung tekanan yang tidak terlihat dalam statistik resmi.

Intan, pedagang nasi kuning, memangku bakul berisi nasi seharga lima ribuan miliknya. Kemarau panjang memangkas pasokan daun pisang hingga harganya meroket dari Rp15.000 menjadi Rp50.000 per ikat. Harga beras ikut merambat naik dari Rp15.000 ke Rp17.000 per kilogram, disusul cabai yang ikut melonjak.

Menahan Harga Demi Pelanggan yang Juga Kesulitan

Meski modal membengkak, Intan menolak menaikkan harga jual nasinya. Alasannya sederhana: para pembelinya adalah warga kecil yang sedang sama-sama terhimpit.

"Biasa jual lima ribu, malu naikin," tuturnya pelan.

Keputusan itu lahir dari kepasrahan. Intan takut pembeli menghilang jika harga dinaikkan, tetapi menanggung selisih modal sendirian membuat dadanya sesak. "Kalo gaada yang beli nasi to, pingin teriak itu lo," ujarnya.

Tekanan yang sama merembet ke urusan rumah. Intan tinggal berdua dengan cucunya yang sedang menjalani pelatihan di sebuah hotel. Sang cucu belum berpenghasilan, dan SPP sekolahnya menunggak hingga empat kali.

Setiap pagi, Intan tetap menyisihkan uang bekal Rp50.000 untuk cucunya. Ia menolak mengurangi nominal itu bukan karena berkecukupan, melainkan karena cemas cucunya kehausan atau kehabisan bensin di jalan saat harga kebutuhan sedang mahal.

Modal Dagang Terhimpit Program MBG dan Efek El Nino

Di lapak daging ayam, Nana yang berjualan bersama suaminya mendapati modal dagangannya membubung. Pasokan ayam lokal berkurang drastis karena terserap program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kelangkaan itu menipiskan margin keuntungan mereka.

Nana memilih menaikkan harga secara perlahan sambil terus cemas kehilangan pelanggan. Situasi berbeda dihadapi Wiryantini, pedagang sembako yang harus menghadapi lonjakan harga cabai dari Rp65.000 menjadi Rp90.000 per kilogram akibat efek El Nino dan jalur pengiriman yang terhambat.

Berdagang seorang diri dari pukul empat pagi hingga dua siang menguras stamina fisiknya. "Di rumah enggak masak lagi, tapi beli," kata Bu Wiryantini.

Sesampainya di rumah, ia memilih membeli makanan jadi dan langsung beristirahat. Kelelahan fisik telah merampas kemampuannya mengolah makanan di dapur sendiri.

Pasar Kian Sepi Setelah Tiga Kebakaran Besar

Kadek dan Maimunah, yang telah 25 tahun berdagang di Pasar Badung, merasakan perubahan suasana pasar. Setelah melewati tiga peristiwa kebakaran besar, mereka menyaksikan jumlah pembeli melandai tajam.

Jika dahulu pasar riuh oleh pembeli dari pagi hingga sore, kini lorong-lorong terasa lengang. Kondisi ini memperberat beban pedagang yang sudah bergulat dengan kenaikan harga bahan pokok.

Beban Ganda Perempuan Pedagang

Fenomena di Pasar Badung sejalan dengan pemikiran feminis Nancy Fraser dalam Social Reproduction Theory. Fraser menjelaskan bahwa sistem ekonomi formal berdiri di atas fondasi kerja reproduksi sosial seperti memasak, mengasuh, dan merawat anggota keluarga.

Kerja perawatan itu hampir seluruhnya ditumpukan pada perempuan tanpa imbalan finansial yang layak. Sosiolog Arlie Hochschild menambahkan konsep The Second Shift: perempuan yang bekerja mencari nafkah di ruang publik masih dituntut menjalankan beban kerja kedua di ruang domestik.

Di Pasar Badung, teori itu bukan wacana akademis. Para pedagang perempuan bertindak sebagai penyangga utama yang menyerap guncangan krisis ekonomi lewat ketergerusan modal dan kelelahan fisik mereka sendiri, agar dapur rumah tangga tidak langsung runtuh.

Puncak empati itu terlihat saat waktu berdagang usai. Ketika siang tiba dan empat bungkus nasi kuningnya masih tersisa di dasar bakul, Intan menyerahkan seluruh sisa nasi itu tanpa mau menerima selembar uang pun. Baginya, menolak berbagi adalah sebuah keburukan, dan ia berprinsip tidak boleh menolak rezeki.

Follow lensabali.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: balebengong.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks