DENPASAR — Aktivitas di Pasar Badung berdenyut sejak pagi. Cahaya hangat menyusup ke lorong-lorong pasar, memantulkan pendar emas pada dagangan yang dijajakan. Tawa dan obrolan tukang suun di dekat pintu masuk terdengar samar, bersanding dengan kicau burung yang singgah di dinding.
Dari penjual tahu dan tempe, lalu penjual sayur di lantai 1, hingga pedagang bumbu dan sembako di selasar kecil, wajah-wajah itu tampak serupa. Sama-sama membawa harapan agar dagangan mereka laku hari itu. Setidaknya satu pembeli cukup untuk menggerakkan kehidupan mereka.
Ali, Penjual Jagung Rebus yang Memikul Nafkah Sendiri
Di lantai 2, tempat pedagang sayur dan tukang suun berkumpul, seorang laki-laki berjalan menyusuri lorong. Di atas kepalanya, baskom berisi jagung rebus masih penuh. Motornya diparkir, dan kini tubuhnya menjadi kendaraan untuk berkeliling menawarkan dagangan.
"Kalau saya jemput bola," ujar Ali, penjual jagung rebus di Pasar Badung, saat ditemui pada Minggu, 27 September 2026.
Ali berasal dari Madura. Ia merantau seorang diri di Denpasar, meninggalkan keluarganya di kampung halaman. Istrinya tidak bekerja dan tinggal di kampung sebagai ibu rumah tangga.
Ketika percakapan bergeser dari pekerjaan ke rumah tangga, batas peran laki-laki dan perempuan bagi Ali menjadi lebih tegas. Ditanya bagaimana jika pembagian peran dibalik, ia menjawab singkat.
"Kurang setuju," ucapnya.
Menurut Ali, laki-laki punya kewajiban mencari nafkah untuk keluarga. Ia menghubungkan pandangan itu dengan pemahamannya bahwa seorang suami bertanggung jawab terhadap istri dan anak. Perempuan boleh bekerja, namun harus berdasarkan persetujuan suami apabila sudah menikah.
"Kalau suaminya suruh kerja, silakan kerja. Kalau memang enggak boleh, ya enggak boleh," jelasnya.
Ada hal sederhana dari pekerjaan yang dipilihnya. Ali memasak sendiri jagung rebus jualannya sebelum berkeliling pasar. Pekerjaan yang dahulu, dan dalam banyak kebudayaan, sering dilekatkan dengan perempuan.
Perempuan dan Gerak Ekonomi di Pasar Tradisional
Beberapa lantai di atas tempat Ali menjajakan jagung, seorang perempuan muda berjualan rokok lokal. Jemarinya cekatan merapikan sebungkus demi sebungkus rokok batang di lapak sederhananya. Ia memberi tanda halus untuk tidak diwawancarai.
Di pasar ini, ada ruang-ruang sunyi yang dipilih untuk bertahan hidup tanpa perlu memberi penjelasan ke dunia luar. Namun keberadaannya menjadi gambaran kecil perihal kedekatan perempuan dan gerak ekonomi di pasar tradisional. Perempuan pekerja mudah ditemui di pasar yang berlokasi di Jalan Gajah Mada ini.
Penelitian Siti Inayatul Faizah (2011) yang termuat dalam Jurnal Ekonomi & Keuangan Islam, Universitas Islam Indonesia, mencatat pasar tradisional menjadi salah satu ruang yang banyak menyerap tenaga kerja perempuan. Sifatnya relatif fleksibel dan dapat dimasuki dengan modal, keterampilan, serta akses kerja yang beragam.
Pasar, dalam penelitian itu, bukan sekadar tempat bertukar barang. Ia juga salah satu ruang ekonomi yang memungkinkan perempuan bertahan ketika pilihan pekerjaan formal terbatas. Tetapi fleksibilitas itu tidak otomatis berarti pembagian peran di rumah ikut berubah.
Kadek S, Hampir 30 Tahun Mengais Rezeki di Pasar Badung
Kadek S, perempuan setengah baya yang saat ditemui tengah duduk di antara bumbu-bumbu kering, sudah hampir 30 tahun bergelut mengais rezeki di Pasar Badung. Baginya, keduanya justru dapat hidup bersamaan.
Pengalaman Kadek menunjukkan bahwa peran ekonomi dan peran domestik tidak selalu harus dipertentangkan. Di pasar, perempuan membangun ruang bertahan yang tidak sepenuhnya lepas dari tradisi, tetapi juga tidak sepenuhnya tunduk padanya.
Pembagian peran di Pasar Badung tidak tampak sebagai sesuatu yang tetap. Sebagian bergeser, sebagian bertahan, sebagian lainnya dinegosiasikan setiap hari — dari lantai 1 hingga lantai 2, dari penjual tempe hingga tukang suun yang mengangkat barang belanjaan pembeli.