Pencarian

Empat Perupa Bali Pameran Lelana di Bantul, Reka Biambara Olah Bambu Jadi Kertas dan Karya Bakar

Minggu, 30 Agustus 2026 • 18:17:02 WIB
Empat Perupa Bali Pameran Lelana di Bantul, Reka Biambara Olah Bambu Jadi Kertas dan Karya Bakar
Empat perupa asal Bali memamerkan karya hasil residensi di Sangkring Art Space x Gurat Institute dalam Pameran Lelana di Bantul.

BANTUL — Pameran Lelana menjadi titik kulminasi perjalanan Made Ari, Made Arsana, Reka Biambara Putra, dan Wahyu Simbrana yang menetap di Yogyakarta sejak awal Juni 2026. Mereka mengikuti program residensi Sangkring Art Space x Gurat Institute sebelum akhirnya memamerkan karya di Cari Nagari, Kembaran, Tamantirto, Kasihan, Bantul.

Dari empat nama tersebut, Reka Biambara tampil paling berbeda. Perupa kelahiran 11 April 2003 itu tidak sekadar memajang sketsa di atas kertas konvensional, melainkan membawa bambu sebagai medium utama sekaligus arsip ingatan masa kecilnya di Jembrana, Bali Barat.

Bosan dengan Kertas Konvensional, Reka Ciptakan Kertas dari Serat Bambu

Proses kreatif Reka di Yogyakarta justru berawal dari kejenuhan. Tuntutan menghasilkan banyak sketsa melalui observasi langsung membuatnya lama bekerja dengan kertas biasa, tinta cina, dan kuas. Media itu, menurut dia, terasa generik dan berjarak dari tema yang diangkat.

"Muncul rasa jenuh terhadap penggunaan kertas biasa yang terasa generik dan kurang memiliki kedalaman keterkaitan dengan tema yang sedang saya angkat," katanya melalui sambungan telepon WhatsApp.

Dari situ muncul pertanyaan yang menjadi tulang punggung karyanya: mengapa tidak menciptakan kertas sendiri dari serat bambu? Keputusan itu membawanya pada proses panjang, dari mengolah bambu utuh menjadi serat, lalu menjadi lembaran kertas, yang kemudian dibakar secara terkendali dengan teknik pyrography.

Peristiwa Pembakaran Bambu di Yogyakarta Jadi Titik Balik

Titik balik itu datang secara tak terduga. Dalam perjalanan menuju sebuah pameran, Reka melihat sekelompok orang menyaksikan pembakaran rumpun bambu. Alih-alih mendekat, ia memilih mengambil jarak dan mengamati dari kejauhan.

"Apakah bambu tersebut dibakar karena sudah kehilangan nilai guna, atau justru karena keberadaannya dianggap mengganggu tatanan tertentu? Atau mungkin bambu tersebut terbakar secara alami karena paparan sinar matahari dan cuaca yang lumayan panas?" ia mempertanyakan.

Delapan hari kemudian, Reka kembali ke lokasi untuk memotret sisa-sisa pembakaran. Dokumentasi itu kelak menjadi bagian dari narasi karyanya. Ia menyimpulkan bahwa pemaknaan terhadap bambu tidak pernah tunggal dan sangat bergantung pada konteks ruang serta individu.

Bambu sebagai Bagian Tak Terpisahkan dari Keseharian di Jembrana

Ketertarikan Reka pada bambu tidak lahir mendadak. Ia tumbuh besar di Jembrana, wilayah yang punya ikatan kuat dengan jegog, kesenian musik bambu raksasa yang menjadi bagian dari lanskap masyarakat agraris setempat.

"Kedekatan saya dengan tanaman bambu berakar pada pengalaman hidup di lingkungan alam dan budaya tempat kelahiran saya di Bali. Sejak kecil, keberadaan bambu menjadi bagian yang tak terpisahkan dari keseharian, baik dalam konteks pelaksanaan upacara adat maupun pemenuhan kebutuhan domestik," ujarnya.

Pengetahuan teknisnya tentang bambu pun cukup rinci. Ia menjelaskan bahwa bambu adalah tumbuhan menahun dari famili rumput-rumputan, bukan pohon berkayu sejati. Batangnya berongga dan beruas sehingga kuat sekaligus lentur, dengan serat yang kuat ditarik memanjang namun rentan retak melintang.

Empat Peran Bambu dalam Karya Reka di Pameran Lelana

Dalam pameran Lelana, karya-karya Reka disusun berdasarkan empat peran yang ia rumuskan sendiri. Peran pertama, Resonansi, merujuk pada jegog, alat musik bambu raksasa dari Jembrana yang menurut kajian I Gede Oka Artha Negara (2016) berkembang sejak sekitar 1912 dan melewati tiga fase: era Genyor, Suprig, dan Jayus.

Karya berjudul Resonansi (Pyrography on Bamboo, 105×30 cm, 2026) menempatkan rongga batang bambu bukan sebagai kekurangan, melainkan justru syarat lahirnya bunyi. Peran kedua, Ritual, berangkat dari benda-benda bambu yang digunakan dalam upacara adat di Bali.

Reka sendiri bukan nama baru di jalur residensi maupun pameran. Dalam tiga tahun terakhir, namanya tercatat di sejumlah pameran di Bali dan Yogyakarta, dari Sound of Jembrana di Anjungan Cerdas Jembrana, residensi MTN Lab "Pulang ke Palung" di Denpasar, hingga Yogya Annual Art #11 di Sangkring Art Gallery. Namun Lelana menjadi titik di mana pertanyaan yang lama dipendamnya akhirnya menemukan bentuk visual yang utuh.

Follow lensabali.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: tatkala.co

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks