BALI — Berdasarkan data pasar, rupiah ditutup melemah dari posisi sebelumnya Rp18.065 per dolar AS. Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga ikut terdepresiasi ke level Rp18.131 per dolar AS, dibandingkan posisi sebelumnya Rp18.069 per dolar AS.
Selat Hormuz Ditutup, Inflasi Global Terancam
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menyebutkan bahwa aksi saling serang rudal dan drone antara AS dan Iran menjadi katalis utama pelemahan rupiah. "Teheran menargetkan fasilitas AS di negara-negara di seluruh Teluk pada hari Minggu (12/7) dan mengatakan bahwa mereka telah kembali menutup Selat Hormuz," ujarnya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin.
Penutupan jalur strategis ini menghidupkan kembali memori buruk guncangan harga energi dan inflasi. Kondisi ini memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) mungkin harus mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama untuk meredam tekanan harga.
Risalah The Fed: Sinyal Kenaikan Suku Bunga Makin Kuat
Ibrahim menambahkan, pelemahan rupiah juga dipicu oleh sikap hawkish bank sentral AS. Risalah pertemuan The Fed bulan Juni yang dirilis pekan lalu menunjukkan beberapa pembuat kebijakan melihat adanya alasan untuk menaikkan suku bunga. "Para pejabat secara umum menyatakan kekhawatiran yang lebih besar atas tekanan inflasi bahkan ketika kekhawatiran tentang pasar tenaga kerja mereda," ungkapnya.
Konflik baru ini menimbulkan keraguan lebih lanjut tentang masa depan perjanjian sementara AS-Iran yang ditandatangani bulan lalu. Kesepakatan tersebut sebelumnya bertujuan membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri perang setelah 60 hari negosiasi lebih lanjut.
Dampak ke Investor dan Pelaku Bisnis
Pelemahan rupiah yang berkelanjutan menjadi sinyal waspada bagi investor pasar saham dan obligasi. Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah berpotensi naik seiring ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama, sementara saham-saham yang sensitif terhadap impor bahan baku akan tertekan.
Bagi pelaku bisnis yang memiliki utang dalam denominasi dolar AS, depresiasi rupiah sebesar 0,24% dalam sehari ini meningkatkan beban pembayaran. Pelaku pasar disarankan mencermati perkembangan negosiasi AS-Iran dan data inflasi AS pekan ini yang akan menjadi pijakan keputusan The Fed selanjutnya.