DENPASAR — Pemprov Bali melalui Dinas Pendidikan mulai menggencarkan program pelatihan urban farming bagi para guru di kawasan perkotaan. Langkah ini diambil setelah survei internal mengungkap bahwa pemahaman tenaga pendidik terhadap teknik bercocok tanam di lahan terbatas baru mencapai 30 persen.
Mengapa Pemahaman Guru soal Urban Farming Masih Rendah?
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Bali menyebutkan bahwa mayoritas guru tidak memiliki latar belakang pertanian. Selama ini, praktik bercocok tanam di sekolah kerap terhambat oleh keterbatasan lahan dan minimnya pengetahuan teknis seperti hidroponik atau vertikultur.
"Kami tidak bisa terus-menerus menjadikan keterbatasan lahan sebagai alasan. Urban farming bisa dilakukan di atas talang, pipa paralon, atau dinding vertikal," ujarnya dalam sebuah forum diskusi pekan lalu.
Target: Setiap Sekolah Punya Kebun Mini
Program ini menargetkan setiap sekolah di perkotaan memiliki kebun mini sebagai laboratorium hidup bagi siswa. Para guru akan dibekali pelatihan mulai dari teknik penyemaian, pembuatan media tanam alternatif, hingga pengelolaan panen sederhana.
Pelatihan tahap awal difokuskan pada 50 sekolah di Denpasar dan Badung. Materi disusun bersama penyuluh pertanian dari Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan setempat.
Dampak ke Siswa: Belajar Sains dari Praktik Langsung
Selain sebagai sumber pangan, urban farming di sekolah diharapkan menjadi media pembelajaran lintas mata pelajaran. Guru IPA bisa mengajarkan fotosintesis dari tanaman hidroponik, sementara guru IPS bisa membahas ekonomi rumah tangga dari hasil panen.
"Anak-anak tidak hanya membaca teori, tapi ikut menanam, merawat, dan memanen. Ini membangun karakter dan kemandirian," tambah Kadisdik.
Tantangan: Konsistensi Perawatan dan Anggaran
Kendala utama yang diantisipasi adalah konsistensi perawatan tanaman saat libur sekolah dan alokasi anggaran untuk pembelian bibit serta instalasi sederhana. Dinas Pendidikan berencana membentuk tim koordinator urban farming di setiap gugus sekolah untuk memastikan keberlanjutan program.
Pemprov Bali juga tengah menjajaki kerja sama dengan komunitas tani kota dan perguruan tinggi untuk pendampingan teknis jangka panjang. Program ini ditargetkan berjalan penuh pada semester genap tahun ajaran 2025/2026.