DENPASAR — Tantangan terbesar Pesta Kesenian Bali (PKB) saat ini bukan sekadar soal anggaran atau jumlah pengunjung, melainkan bagaimana menjembatani jarak pemikiran antara seniman senior dan seniman muda. Kurator PKB XLVIII Tahun 2026 Prof I Gede Arya Sugiartha menilai perbedaan cara pandang ini bisa menggerus nilai-nilai tradisi jika tidak dikelola dengan strategi berkelanjutan.
Strategi Empat Jurus untuk PKB Berkelanjutan
Dalam paparannya di Denpasar, Jumat, Prof Arya yang juga mantan Kepala Dinas Kebudayaan Bali mengusulkan sejumlah strategi konkret. Pertama, setiap tahun PKB wajib menghadirkan program khusus yang mempertemukan maestro dengan murid kreatif. Kedua, digitalisasi dokumentasi karya dan pengetahuan seniman harus menjadi agenda rutin.
"Setiap tahun harus ada kegiatan kolaborasi karya lintas generasi, juga dialog budaya antar-generasi," kata Prof Arya.
Strategi ketiga dan keempat adalah mewajibkan adanya kolaborasi karya lintas generasi serta dialog budaya antar-generasi. Menurutnya, ruang pertemuan ini penting karena seniman senior cenderung kurang adaptif terhadap teknologi dan digitalisasi, sementara seniman muda memiliki akses pendidikan global dan mampu mendekonstruksi karya menjadi lebih segar.
Mengapa Pemikiran di Balik Karya Sering Terlupakan?
Budayawan Bali Kadek Suartaya menambahkan, pelibatan seniman lintas generasi di PKB sebenarnya sudah banyak terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Namun, masalahnya mereka cenderung hanya tampil di panggung tanpa digali pemikiran-pemikirannya.
"Selama ini PKB kurang memberi ruang maestro seniman untuk menuangkan, memperbincangkan pengetahuannya. Yang lebih disodorkan hanya kegemerlapannya, sementara pemikiran di balik karya tersebut tidak didiskusikan bahkan tidak didokumentasikan," ujar Kadek.
Maestro seni pertunjukan itu menegaskan, panggung pertunjukan hanya berlangsung sesaat. Namun, gagasan dan pemikiran seniman adalah warisan yang akan bertahan sepanjang zaman. "Kalau ingin PKB berlanjut hingga setengah abad dan relevan dengan kehidupan, jangan hanya merawat karya seninya tapi gagasan pemikiran senimannya," tuturnya.
Keseimbangan Tradisi dan Inovasi Jadi Kunci Masa Depan PKB
Prof Arya menekankan bahwa masa depan PKB akan bergantung pada keseimbangan antara pelestarian dan inovasi. Sinergi antara seniman senior dan seniman muda disebutnya sebagai modal utama keberlanjutan festival yang telah menjadi ikon budaya Bali ini.
"PKB harus menjadi ruang dialektika budaya, tempat tradisi dan modernitas saling bernegosiasi secara kreatif tanpa saling meniadakan," kata Prof Arya.
Dengan adanya dialog budaya antar-generasi, para maestro dapat membagikan ilmu dan pemahaman seni Bali yang benar. Sementara seniman muda dapat menyumbangkan pemikiran segar dan pengetahuannya agar PKB selalu relevan dengan perkembangan zaman.