DENPASAR — Angka itu terdiri dari 7,05 juta wisatawan mancanegara dan 9,2 juta wisatawan domestik. Dalam diskusi yang digelar InJourney Airports, Rabu (17/6/2026), Koster menegaskan persoalan kemacetan di sekitar bandara bukan lagi sekadar gangguan lalu lintas biasa, melainkan ancaman langsung terhadap ekosistem pariwisata.
"Penguatan aksesibilitas transportasi keluar masuk bandara menjadi perhatian urgen karena berkaitan dengan isu kemacetan. Jika tidak diantisipasi, persoalan ini dapat mempengaruhi citra pariwisata Bali," ujar Koster dalam rilis yang diterima dari Antara.
Pemetaan Titik Macet di Badung dan Denpasar
Koster meminta agar penanganan tidak parsial. Ia menginstruksikan seluruh titik rawan kemacetan di wilayah Badung dan Denpasar dipetakan secara detail.
"Petakan betul setiap titiknya. Ini tak bisa fokus di satu titik saja, alur kendaraan harus benar-benar dipetakan," katanya.
Menurut gubernur, posisi Bandara Ngurah Rai yang strategis sebagai pintu gerbang utama pariwisata Bali menuntut perhatian ekstra. Pertumbuhan kunjungan wisatawan yang berdampak positif pada perekonomian masyarakat justru bisa berbalik menjadi bumerang jika infrastruktur transportasi tidak mampu menampung pergerakan.
Perluasan Parkir dan Terminal Mendesak Direalisasikan
Dalam kesempatan yang sama, Koster juga menyoroti rencana perluasan area parkir dan terminal bandara. Ia berharap pengelola segera merealisasikan rencana tersebut tanpa penundaan.
Pemprov Bali menginginkan hasil diskusi ini langsung dieksekusi. "Jika tidak ada halangan, hasil dari diskusi agar bisa langsung dieksekusi dan dinikmati masyarakat serta wisatawan," tegasnya.
Kajian Universitas Udayana Jadi Acuan
Direktur Strategi dan Pengembangan Teknologi PT Angkasa Pura Indonesia Ferry Kusnowo menjelaskan, diskusi ini merupakan kelanjutan dari pembahasan sebelumnya. Pihaknya menggandeng Universitas Udayana untuk menyusun kajian komprehensif terkait aksesibilitas dari dan menuju bandara.
"Kami menyadari bahwa keberhasilan program ini sangat bergantung pada sinergi lintas instansi. Kami mengharapkan masukan dan kontribusi konstruktif dari seluruh pihak agar program penguatan aksesibilitas ini dapat berjalan optimal," ujar Ferry.
Pendekatan yang digunakan bersifat integratif, bertahap, dan kolaboratif. Ferry menambahkan, penguatan aksesibilitas transportasi keluar masuk bandara membutuhkan keterlibatan semua pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah, kepolisian, hingga pengelola jalan tol.