JAKARTA — Rupiah melanjutkan tren pelemahannya pada perdagangan Kamis (17/4) sore, ditutup turun 45 poin menjadi Rp17.989 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp17.944. Analis menilai sentimen risiko geopolitik menjadi pemicu utama tekanan terhadap mata uang Garuda.
Konflik Timur Tengah Kembali Panaskan Dolar
Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, mengatakan bahwa eskalasi konflik terbaru antara AS-zionis Israel dengan Iran menjadi katalis negatif bagi pasar keuangan domestik. Ketegangan yang meningkat mendorong investor beralih ke aset aman (safe haven), terutama dolar AS.
"Pelemahan rupiah pada perdagangan hari ini dipengaruhi dari faktor global risiko geopolitik meningkatnya eskalasi konflik AS Israel dan Iran terbaru," ujar Rully kepada ANTARA di Jakarta, Kamis.
Imbal Hasil Obligasi Pemerintah Ikut Tertekan
Selain faktor geopolitik, tekanan terhadap rupiah juga datang dari pasar obligasi. Minat pelaku pasar terhadap surat berharga negara (SBN) menurun, sehingga mendorong kenaikan tingkat imbal hasil atau yield.
Rully mencatat, yield obligasi tenor 10 tahun naik 10 basis points (bps) menjadi 7,45 persen. Sementara itu, yield tenor 8 tahun melonjak 17 bps ke 7,46 persen, dan tenor 5 tahun naik 2 bps menjadi 7,47 persen.
JISDOR BI Juga Bergerak ke Zona Merah
Kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang diterbitkan Bank Indonesia pada hari yang sama juga mencatat pelemahan. JISDOR berada di level Rp17.981 per dolar AS, turun dibandingkan posisi sebelumnya Rp17.971 per dolar AS.