BALI — Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Aceh Barat, Teuku Putra Azmisyah, menyatakan gedung utama SDN Alue Lhok rusak berat akibat terjangan banjir bandang akhir tahun lalu. “Untuk sementara para murid terpaksa belajar di tenda darurat, karena sebagian besar gedung sekolah mereka sudah rusak,” ujarnya di Jakarta, Selasa (9/6), sebagaimana dikutip dari ANTARA.
Ujian di Tenda dan Ketahanan Belajar
Meski dalam keterbatasan, para siswa tetap mengikuti ujian yang rampung pada Senin (8/6) lalu. Proses belajar mengajar disebut tidak terganggu secara signifikan karena para guru yang mengajar berasal dari desa setempat atau bermukim tak jauh dari lokasi sekolah. “Mereka tidak memiliki pilihan lain untuk bisa belajar, akibat sekolah yang ada sama sekali tidak bisa digunakan,” kata Teuku Putra.
Foto-foto yang beredar memperlihatkan sejumlah siswa mengerjakan soal ujian di dalam tenda darurat di Desa Jambak, Kecamatan Pante Ceureumen, pada Jumat (5/6). Kondisi ini menjadi gambaran nyata kesenjangan infrastruktur pendidikan pascabencana di daerah terpencil.
Harapan Rehabilitasi Gedung dari Pemerintah Pusat
Sebagai solusi jangka panjang, Dinas Pendidikan Aceh Barat telah memasukkan data kerusakan SDN Alue Lhok ke dalam sistem pelaporan dampak bencana nasional. Teuku Putra mengungkapkan, berdasarkan informasi yang diterima pihaknya, bangunan sekolah yang rusak itu direncanakan akan dibangun kembali oleh pemerintah pusat pada tahun ini.
“Informasi yang kami peroleh, SDN Alue Lhok, Kecamatan Pante Ceureumen, yang rusak ini akan dibangun tahun ini oleh pemerintah pusat. Kita doakan saja semoga semuanya berjalan lancar,” ujar Teuku Putra Azmisyah.
Banjir Bandang dan Dampaknya yang Berkepanjangan
Banjir bandang yang melanda Aceh Barat pada akhir November 2025 tidak hanya merendam permukiman, tetapi juga melumpuhkan fasilitas publik, termasuk sekolah. SDN Alue Lhok menjadi salah satu dari sekian banyak institusi pendidikan yang hingga kini belum pulih sepenuhnya. Belum ada kepastian kapan proses pembangunan gedung baru dimulai, namun laporan telah masuk ke sistem pusat sebagai prioritas rehabilitasi pascabencana.
Peristiwa ini kembali mengingatkan pada kerentanan infrastruktur pendidikan di wilayah pedalaman dan pesisir Aceh yang kerap dilanda bencana hidrometeorologi. Tanpa percepatan rehabilitasi, proses belajar mengajar di tenda darurat dikhawatirkan berlangsung lebih lama lagi.