BULELENG — Data Sistem Informasi Gizi dan Kesehatan Keluarga (Sigizikesga) menempatkan prevalensi stunting Buleleng pada 3,47 persen. Kepala Dinas Kesehatan Buleleng, dr Sucipto, menilai capaian itu belum jadi alasan untuk berhenti mengawasi tumbuh kembang balita.
Menurut Sucipto, penanganan stunting tidak cukup hanya dengan menyediakan makanan bergizi. Pertumbuhan anak perlu dipantau berkala agar gangguan terdeteksi sejak awal.
Posyandu Jadi Garda Terdepan Deteksi Dini
Sucipto menyebut Posyandu berperan penting dalam memantau kondisi balita. Pengukuran berat dan tinggi badan setiap bulan diperlukan untuk memastikan pertumbuhan anak sesuai usianya.
"Karena itu, kami mengajak para orang tua untuk rutin membawa balitanya ke Posyandu agar berat badan dan tinggi badannya terpantau setiap bulan," ujar Sucipto, Selasa (27/10/2026).
Ia juga meminta orang tua tidak menunggu anak terlihat kurus sebelum memeriksakan kesehatannya. Gangguan pertumbuhan, kata dia, perlu dikenali lebih awal supaya penanganan bisa segera dilakukan.
"Jangan menunggu anak terlihat kurus untuk memeriksakan pertumbuhannya. Pemantauan rutin di Posyandu membantu mendeteksi masalah sejak dini sehingga anak bisa segera mendapatkan penanganan yang tepat," imbuh Sucipto.
Protein Hewani hingga Vitamin A Masuk Perhatian
Dinkes Buleleng meminta orang tua memberikan makanan pendamping ASI sesuai kebutuhan hingga anak berusia dua tahun. Vitamin A juga perlu diberikan sesuai jadwal.
Asupan gizi seimbang, terutama protein hewani, menjadi bagian dari imbauan tersebut. Telur, ikan, daging, ayam, dan susu disebut sebagai sumber protein hewani yang mendukung pertumbuhan anak.
"Pemenuhan protein hewani sangat penting untuk mendukung pertumbuhan anak," ujarnya.
Sejumlah Kondisi yang Perlu Diwaspadai Orang Tua
Sucipto membeberkan sejumlah indikasi masalah pertumbuhan yang perlu menjadi perhatian. Tuberkulosis (TBC), cacingan, infeksi kronis, gangguan penyerapan nutrisi, hingga anemia masuk dalam daftar itu.
Deretan kondisi tersebut menjadi alasan pemantauan rutin tidak bisa diganti sekadar pemberian makanan bergizi. Deteksi awal memungkinkan anak mendapat penanganan tepat sebelum gangguan pertumbuhan berdampak lebih jauh.