DENPASAR — Duta Besar Swiss untuk Indonesia Konstantin Obolensky datang didampingi Konsul Kehormatan Swiss untuk Bali Gerhard L. Nutz. Agenda pertemuan mencakup perkembangan sektor pariwisata yang selama ini menjadi penghubung penting antara Bali dan Swiss.
Data yang disampaikan dalam pertemuan mencatat sekitar 29.000 wisatawan asal Swiss telah berkunjung ke Indonesia hingga 21 Oktober 2026. Rata-rata kunjungan mencapai sekitar 3.065 orang per bulan.
700 Warga Swiss Menetap dan Bekerja di Bali
Selain arus wisatawan, kedekatan kedua pihak terlihat dari keberadaan komunitas diaspora Swiss di Bali. Tercatat sekitar 700 warga negara Swiss menetap dan bekerja di pulau tersebut.
Keberadaan komunitas itu disebut membuka ruang untuk memperkuat pertukaran pengetahuan, pengalaman, dan peluang kolaborasi di berbagai bidang.
Minat Swiss pada Pengolahan Sampah dan Air Limbah
Obolensky menegaskan dukungan Swiss terhadap pengembangan investasi dan pembangunan di Bali. Swiss menyatakan ketertarikan menjajaki kerja sama di sektor industri inovatif, pengolahan sampah, serta pengolahan air limbah.
Ketertarikan tersebut dinilai relevan dengan kebutuhan Bali menjaga kualitas lingkungan dan memperkuat tata kelola persampahan. Dua hal itu juga menopang daya tarik pulau sebagai destinasi pariwisata dunia.
Koster menyambut baik perkembangan hubungan tersebut dan berharap kerja sama yang telah terjalin dapat terus diperluas. Menurutnya, kolaborasi itu perlu memberi dampak positif bagi masyarakat dan perekonomian Bali.
Agenda Padat Dubes Swiss di Bali
Kunjungan perdana Obolensky ke Bali berlangsung padat. Selain ke Jayasabha, ia meninjau sejumlah lokasi usaha milik warga negara maupun badan usaha asal Swiss.
Obolensky juga menghadiri agenda Global Etik IADEMA sehari sebelumnya dan bersilaturahmi dengan komunitas diaspora Swiss yang tinggal di Bali.
Kain Endek sebagai Penutup Pertemuan
Di akhir pertemuan, Koster menyerahkan cinderamata berupa kain tenun endek khas Bali kepada Obolensky. Pemberian itu menjadi simbol penghormatan dan persahabatan sekaligus upaya memperkenalkan produk UMKM Bali ke masyarakat internasional.
Kain endek dengan ragam motif dan nilai budaya yang melekat di dalamnya merepresentasikan kreativitas serta identitas masyarakat Bali. Lewat jalur diplomasi budaya, produk lokal Bali diharapkan menjangkau pasar yang lebih luas.