BALI — Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menyatakan bank sentral tetap berada di pasar memantau pergerakan rupiah yang melemah ke Rp18.135 per dolar AS pada Senin (26/10). Pelemahan 55 poin atau 0,30 persen dari posisi sebelumnya Rp18.080 itu disebut masih dalam batas volatilitas biasa. BI menegaskan belum ada perubahan strategi intervensi meski rupiah mendekati level terlemah sepanjang 2026.
Level penutupan Rp18.135 per dolar AS menempatkan rupiah sekitar 53 poin dari titik terlemahnya tahun ini. Berdasarkan data yang dihimpun, mata uang Garuda sempat menyentuh Rp18.188 dan Rp18.196 per dolar AS pada 8 Juni 2026. Posisi tersebut menjadi acuan pasar dalam menilai seberapa dekat rupiah ke batas psikologis baru.
Destry menyampaikan pernyataan soal arah intervensi di sela acara Danantara Technology Innovation Investment Forum 2026 di Jakarta. Menurutnya, pergerakan kurs saat ini ditentukan oleh penawaran dan permintaan harian di pasar valas.
"Kita tetap ada di pasar. Ya, ini tergantung supply demand hari ini, ya mungkin lagi... Pokoknya tetap kita monitor pergerakannya," ujar Destry.
BI Pertahankan Strategi Intervensi yang Sama
Bank sentral tidak menyiapkan perubahan taktik dalam menekan gejolak rupiah. Destry menilai gejolak yang muncul belum masuk kategori luar biasa sehingga belum menuntut respons baru.
"Enggak (ada perubahan intervensi). Ini volatility biasa, tapi kita terus monitor. Kita lihat root-cause-nya juga," katanya.
Pernyataan itu memberi sinyal bahwa BI memilih men