KARANGASEM — Suara gemuruh sorak warga dan dentuman gamelan Bali mengiringi jalannya tradisi Perang Pandan di Desa Adat Tenganan Pegringsingan, Karangasem, Bali, baru-baru ini. Puluhan pria desa setengah telanjang saling berhadapan, masing-masing memegang seikat pandan berduri dan perisak rotan. Mereka saling memukul dalam ritual yang dikenal sebagai Mekare-kare.
Ritual tahunan yang digelar di halaman Bale Agung ini bukan sekadar atraksi wisata. Bagi warga setempat, Perang Pandan adalah simbol persatuan dan pengorbanan yang diwariskan secara turun-temurun. Luka goresan duri pandan dianggap sebagai persembahan kepada leluhur.
Apa Makna di Balik Ritual Perang Pandan?
Tradisi Mekare-kare merupakan bagian dari rangkaian upacara keagamaan di Desa Tenganan yang telah berlangsung berabad-abad. Setiap peserta yang terlibat diyakini tengah menjalankan kewajiban spiritual, bukan sekadar ajang adu fisik. Darah yang menetes dari goresan duri dipercaya sebagai simbol penyucian diri.
“Sebagai masyarakat Bali, saya bangga dan bersyukur bisa ikut melaksanakan budaya dan adat Bali. Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan melestarikannya,” ujar salah satu warga yang ikut dalam ritual tersebut.
Dua Pria Berhadapan, Duri Pandan Jadi Senjata
Dalam ritual ini, dua pria berhadapan secara bergantian. Mereka saling memukul bagian punggung lawan menggunakan ikatan daun pandan berduri. Meski tampak keras, pertarungan ini memiliki aturan ketat: tidak boleh memukul wajah dan bagian vital lainnya. Setelah satu ronde selesai, mereka saling memaafkan dan berganti lawan.
Tradisi ini biasanya digelar bertepatan dengan hari raya purnama atau bulan purnama di kalender Bali. Ribuan wisatawan domestik dan mancanegara turut menyaksikan ritual yang hanya bisa ditemukan di Desa Tenganan ini.
Warisan Budaya yang Terus Dijaga
Desa Adat Tenganan Pegringsingan sendiri dikenal sebagai salah satu desa Bali Aga, yakni desa asli Bali yang masih mempertahankan tradisi pra-Hindu. Selain Perang Pandan, desa ini juga terkenal dengan kain tenun Gringsing yang dibuat dengan teknik rangrang khas.
Pemerintah Kabupaten Karangasem pun terus mendorong pelestarian tradisi ini sebagai bagian dari daya tarik wisata budaya. Namun bagi warga Tenganan, nilai spiritual dan kebersamaan tetap menjadi yang utama di atas segalanya.