DENPASAR — Industri tenun endek Bali berada dalam kondisi kritis. Ketua Dekranasda Provinsi Bali, Putri Suastini Koster, mengungkapkan temuan survei yang mengejutkan: sebanyak 83 persen kain endek yang dijual di pasaran Bali saat ini bukanlah produk asli buatan perajin lokal, melainkan hasil produksi dari luar Bali.
Fakta itu disampaikan saat membuka Dekranasda Bali Fashion Day di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Denpasar, Jumat (29/5/2026). Menurutnya, data tersebut diperoleh dari hasil survei yang dilakukan Universitas Hindu Indonesia (UNHI).
“Ketika UNHI membantu kami melakukan survei, hasilnya sangat mencengangkan. Sebanyak 83 persen kain endek yang beredar di pasaran berasal dari luar Bali, sedangkan yang diproduksi di Bali hanya sekitar 17 persen,” ungkap Putri Koster dalam sambutannya.
Paradoks Penggunaan dan Produksi Endek
Putri Koster menyoroti situasi paradoks yang terjadi. Di satu sisi, penggunaan kain endek Bali semakin meningkat di kalangan masyarakat dan instansi. Namun di sisi lain, jumlah penenun justru terus berkurang drastis.
“Fenomena yang ada saat ini, semakin banyak kita memakai kain tenun endek Bali, tetapi minat anak-anak muda kita untuk menenun sangat kecil. Ini sangat berbanding terbalik,” ujarnya.
Ia menambahkan, banyak penenun senior yang sebelumnya aktif berkarya kini memilih berhenti dan meninggalkan profesi tersebut. Jika kondisi ini dibiarkan, Bali dikhawatirkan hanya akan menjadi pengguna endek tanpa lagi memiliki sumber daya manusia yang mampu memproduksinya.
Ancaman Nyata bagi Warisan Budaya
“Tenun endek kita sedang tidak baik-baik saja,” tegas Putri Koster. Pernyataan itu menjadi alarm bagi seluruh pemangku kepentingan di Pulau Dewata.
Ia secara khusus meminta para pedagang untuk tidak lagi menjual kain bermotif endek yang diproduksi di luar Bali sebagai produk endek Bali. Praktik tersebut dinilai tidak hanya merugikan perajin lokal, tetapi juga mengancam keberlangsungan industri tenun tradisional di daerah.
Putri Koster mengajak seluruh pihak—pemerintah, pelaku usaha, penenun, hingga masyarakat sebagai konsumen—untuk bersama-sama mengambil peran dalam menjaga keberlanjutan warisan budaya ini. Menurutnya, tanpa aksi kolektif, endek Bali bisa kehilangan identitas dan perajinnya dalam satu generasi ke depan.