Pencarian

Danantara Diminta Jadi Arsitek Modal BUMN, Laba Rp326 T Jadi Modal Awal

Selasa, 06 Oktober 2026 • 09:27:01 WIB
Danantara Diminta Jadi Arsitek Modal BUMN, Laba Rp326 T Jadi Modal Awal
Komisaris Pelindo Arief Poyuono mendorong Danantara berperan sebagai arsitek permodalan nasional.

BALI — Komisaris Pelindo Arief Poyuono mendorong Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) tampil sebagai arsitek permodalan nasional, bukan sekadar pengelola aset BUMN. Usulan itu muncul di tengah transformasi tata kelola perusahaan negara yang labanya disebut mencapai Rp326 triliun pada 2025. Arah baru ini dinilai menentukan apakah Indonesia bisa keluar dari jebakan pendapatan menengah.

Paragraf pembuka: Pemerintah menempuh jalur transformasi BUMN lewat pembentukan Danantara sebagai respons terhadap persaingan global. Arief Poyuono, yang juga menjabat Komisaris Pelindo, menuangkan gagasan itu dalam tulisan berjudul "Rekayasa Ulang BUMN Melalui Danantara sebagai Motor Penggerak Kekuatan Nasional" tertanggal Jakarta, 4 Oktober 2026. Menurut dia, posisi Indonesia sebagai negara berpendapatan menengah atas menuntut langkah lebih progresif dalam mengelola sektor strategis, termasuk BUMN.

Laba Rp326 Triliun Jadi Pijakan

BUMN dinilai punya posisi strategis dalam mendorong pendapatan nasional. Dengan laba yang disebut mencapai sekitar Rp326 triliun pada 2025, konsolidasi dan optimalisasi aset lewat Danantara dianggap bisa mempercepat pertumbuhan ekonomi.

"Danantara harus mampu menjadi motor penggerak kekuatan nasional dengan mengarahkan modal negara kepada sektor-sektor produktif, strategis dan memiliki dampak ekonomi jangka panjang," tulis Arief.

Dia mengaitkan hal itu dengan pesan Presiden Prabowo Subianto kepada jajaran eksekutif BUMN. "Jika Anda tidak bisa memberikan hasil, silakan keluar," ujarnya mengutip pesan Presiden, yang menurut dia menjadi sinyal kuat perubahan paradigma tata kelola perusahaan negara.

Mengapa Hilirisasi Jadi Kunci

Arief menegaskan Indonesia tidak bisa selamanya mengandalkan ekspor komoditas mentah bila ingin keluar dari jebakan pendapatan menengah. Investasi negara perlu diarahkan ke industrialisasi, hilirisasi, teknologi masa depan, infrastruktur strategis, dan sektor yang mampu menciptakan lapangan kerja berkualitas.

Penciptaan high-skilled jobs dianggap penting karena mendorong peningkatan produktivitas, upah, dan pendapatan per kapita secara berkelanjutan. Danantara juga dinilai perlu merestrukturisasi BUMN tidak produktif, mengurangi birokrasi, mengonsolidasikan sektor usaha, serta menyederhanakan struktur anak dan cucu perusahaan.

"Melalui tata kelola yang profesional, produktivitas aset negara harus ditingkatkan untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional hingga 6–7 persen per tahun," ujarnya.

Dari Pengelola Aset ke Arsitek Modal

Perubahan paradigma yang diminta Arief cukup mendasar. Danantara, katanya, tidak boleh hanya berfungsi sebagai pengelola aset, tetapi harus tampil sebagai capital architect atau arsitek permodalan nasional.

Artinya, pengelolaan BUMN tidak lagi semata-mata berdasarkan siklus anggaran dan birokrasi, melainkan memakai disiplin alokasi modal, Return on Invested Capital (ROIC), arus kas, serta dampak investasi terhadap perekonomian. Perusahaan negara harus dinilai dari kemampuan menciptakan nilai dan memberi dampak strategis.

BUMN yang tidak produktif, lanjut dia, perlu ditangani lewat restrukturisasi, penggabungan, pelepasan aset noninti, atau langkah korporasi lain sesuai kondisi masing-masing perusahaan.

"Jika kita memperlakukan semuanya secara sama rata, kita akan merugi. Jika kita membela semuanya tanpa pandang bulu, kita akan mengalami stagnasi. Di sinilah disiplin modal harus mendobrak loyalitas lama," tulisnya.

Lima Agenda yang Ditawarkan

Arief menyusun lima agenda sebagai panduan transformasi BUMN di bawah pengelolaan Danantara:

  • Membentuk klaster strategis berdasarkan sektor seperti energi, logistik, digital, manufaktur, pangan, dan keuangan, masing-masing dengan sasaran kinerja, strategi sektoral, serta kepemimpinan yang jelas.
  • Menerapkan disiplin modal dengan mengukur ROIC, arus kas, dampak pengganda terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), dan kemampuan perusahaan menciptakan nilai.
  • Merombak talenta dan manajemen BUMN dengan mengedepankan kompetensi serta kinerja, sehingga penempatan pimpinan berbasis merit dan profesionalisme, bukan kepentingan politik.
  • Menjadikan Danantara investor aktif yang mengalokasikan modal ke sektor bermanfaat strategis sekaligus mendivestasi aset yang tak lagi menjadi bagian kepentingan inti.
  • Membangun dasbor akuntabilitas publik agar masyarakat bisa melihat kinerja BUMN secara transparan, memuat antara lain ROIC dibandingkan biaya modal, dampak investasi terhadap PDB, keberlanjutan arus kas, rasio utang, penciptaan lapangan kerja, dan dampak lingkungan.

Penutup: Bagi pelaku pasar dan pelaku usaha, arah Danantara akan menentukan seberapa agresif modal negara masuk ke sektor produktif. Jika disiplin modal benar-benar diterapkan, laba BUMN yang sudah menembus ratusan triliun rupiah berpeluang berubah menjadi mesin pertumbuhan, bukan sekadar setoran dividen tahunan.

Follow lensabali.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: lintasnusantara.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks