Pencarian

Snapchat Hentikan Reward untuk Video AI Murni di Spotlight, Fokus ke Konten Manusia

Sabtu, 01 Agustus 2026 • 06:59:32 WIB
Snapchat Hentikan Reward untuk Video AI Murni di Spotlight, Fokus ke Konten Manusia
Kebijakan baru Snapchat membatasi video AI murni dari fitur Spotlight untuk fokus pada konten buatan manusia.

BALI — Snapchat mengumumkan perubahan kebijakan pada Jumat pekan lalu. Platform berbagi foto dan video itu menyatakan sistem rekomendasinya kini hanya akan mengizinkan video yang dibuat oleh manusia untuk masuk ke jajaran Spotlight, fitur yang menampilkan konten populer dan berpotensi memberikan insentif finansial bagi kreator.

Kebijakan ini merupakan langkah terbaru Snapchat dalam menekan peredaran "AI slop", istilah untuk konten generatif yang diproduksi massal tanpa nilai kreatif. Sebelumnya pada April, perusahaan telah memberi sinyal akan mengurangi konten AI yang muncul di feed pengguna.

Alasan Perubahan Kebijakan

Dalam pengumuman resminya, Snapchat menegaskan komitmennya menjaga Spotlight sebagai ruang untuk kreativitas autentik. Pihak perusahaan menyebut adanya nilai jangka panjang dalam menghargai perspektif orisinal dan cerita personal yang dibuat pengguna.

"Kami percaya ada nilai abadi dalam menghargai perspektif orisinal, penceritaan pribadi, dan momen yang dipilih orang untuk dibuat dan dibagikan sendiri," tulis Snapchat dalam blog resminya.

Meski demikian, Snapchat tidak sepenuhnya menutup pintu bagi penggunaan AI. Kreator tetap boleh memanfaatkan alat bantu AI yang disediakan platform untuk mempercantik atau mengedit konten, selama proses kreatif utamanya berasal dari manusia.

Dampak bagi Kreator dan Pengguna

Bagi kreator yang selama ini mengandalkan konten AI murni untuk mendapatkan reward Spotlight, kebijakan ini mengubah total strategi mereka. Video yang tidak memenuhi syarat tetap bisa diunggah, tetapi tidak akan direkomendasikan secara luas maupun memenuhi syarat insentif.

Pengguna umum juga akan merasakan perbedaan signifikan. Feed Spotlight diprediksi akan menampilkan lebih banyak konten yang terasa personal dan beragam, bukan konten generik yang sering kali terlihat serupa antarakreator.

Gelombang Penolakan Konten AI di Platform Lain

Langkah Snapchat sejalan dengan tren industri yang mulai menolak konten AI berkualitas rendah. LinkedIn baru-baru ini meluncurkan tombol pelaporan berlabel "seems like AI slop" untuk menandai unggahan yang diduga dibuat AI. Substack juga menghadirkan alat identifikasi buletin yang ditulis AI.

Meta bahkan terpaksa menghapus fitur Instagram yang memungkinkan pengguna memodifikasi foto akun publik dengan AI setelah menuai kritik tajam awal bulan ini. YouTube pun memperketat kebijakan monetisasi dengan melarang konten tidak autentik, termasuk materi berbasis template dan persona AI yang membahas topik sensitif seperti kesehatan dan keuangan.

Perlindungan Pengguna Muda

Terpisah dari kebijakan AI, bulan lalu Snapchat memperkenalkan kontrol konten baru untuk pengguna di bawah umur. Remaja berusia 13 hingga 15 tahun kini hanya dapat membagikan postingan Spotlight kepada orang yang mereka ikuti balik, sebagai langkah pencegahan doxxing.

Bagi pengguna Indonesia yang aktif membuat konten di Snapchat, perubahan ini menegaskan pentingnya pendekatan kreatif yang orisinal. Alat AI tetap tersedia untuk membantu proses editing, tetapi substansi konten harus tetap berasal dari pengalaman dan perspektif pribadi.

Follow lensabali.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: techcrunch.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks