DENPASAR — Sebanyak 11 sekolah menengah atas dan kejuruan negeri di Bali masih memiliki sisa kuota besar setelah Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahap I. Tingkat keterisian di sekolah-sekolah itu tercatat di bawah 40 persen dari total daya tampung yang tersedia.
Pemerintah Provinsi Bali melalui Dinas Pendidikan kemudian memutuskan mengalihkan sisa kursi tersebut ke jalur domisili. Langkah ini dilakukan agar kapasitas sekolah negeri tidak terbuang sia-sia di tengah proses penerimaan siswa baru yang masih berjalan.
11 Sekolah dengan Daya Tampung Rendah
Dinas Pendidikan Provinsi Bali tidak merinci satu per satu nama sekolah yang masuk kategori kekurangan peminat. Namun, dari data internal, 11 SMA dan SMK Negeri itu tersebar di beberapa kabupaten di Pulau Dewata.
Keputusan pengalihan kuota ke jalur domisili menjadi opsi terakhir setelah jalur zonasi, afirmasi, perpindahan orang tua, dan prestasi tidak mampu memenuhi target pendaftaran di sekolah-sekolah tersebut.
Alasan di Balik Sepinya Peminat
Rendahnya keterisian di sejumlah SMA dan SMK Negeri ini tidak lepas dari persebaran penduduk dan preferensi masyarakat. Beberapa sekolah yang sepi peminat berada di wilayah dengan jumlah siswa SMP yang terbatas atau berdekatan dengan sekolah swasta yang lebih diminati.
Dinas Pendidikan juga mencatat bahwa tren siswa memilih sekolah di kota besar seperti Denpasar dan Badung masih dominan. Akibatnya, sekolah di daerah penyangga atau pelosok kabupaten kerap kekurangan pendaftar.
Jalur Domisili Jadi Andalan Terakhir
Dengan dialihkannya sisa kuota ke jalur domisili, calon siswa yang tinggal di sekitar sekolah dapat mendaftar tanpa harus bersaing melalui jalur prestasi atau zonasi ketat. Kebijakan ini berlaku mulai tahap kedua SPMB yang tengah berlangsung.
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Bali belum memberikan pernyataan resmi terkait rincian teknis pengalihan ini. Namun, panitia SPMB daerah memastikan bahwa mekanisme pendaftaran tetap mengacu pada jadwal yang sudah ditetapkan sebelumnya.