Produksi Multi-Produk untuk Industri dan Listrik
BALI — Mini LNG Plant di Tuban bukan sekadar pabrik gas biasa. Fasilitas ini dirancang sebagai pusat pengolahan yang menghasilkan lima jenis energi sekaligus: LNG (gas alam cair), CNG (gas alam terkompresi), LPG, kondensat, dan direncanakan juga CO2 cair. Kapasitas produksi LNG-nya setara dengan 55.300 ton per tahun, dengan tangki penyimpanan sebanyak 1.600 unit.
Pabrik ini sanggup memproduksi LPG 9.800 ton per tahun, gas kondensat 19.600 barel per tahun, dan CO2 cair 21.000 ton per tahun. Seluruh komoditas akan dipasok ke sektor industri, ritel, dan pembangkit listrik di Jawa, Bali, hingga Sulawesi, menggunakan rantai pasok berbasis transportasi darat.
Bahlil: Jangan Ganggu Kontrak, Ini Investasi Besar
Dalam sambutannya, Bahlil menekankan pentingnya kepastian pasokan gas bagi industri. Ia menyebutkan bahwa di Jawa Timur harga gas masih terkendali, namun di Jawa Barat, Banten, Bekasi, dan Jakarta terjadi kenaikan harga karena pasokan gas bumi dari lifting dalam negeri menurun.
"Nah ini sangat membantu industri dalam rangka memberikan kepastian terhadap bahan baku. Sekarang kita di Jawa Timur masih oke, harganya masih oke. Di Jawa Barat, Banten, Bekasi, Jakarta, itu terjadi koreksi karena HGBT kita lagi menurun, lifting di sana lagi menurun. Terpaksa kita pakai LNG, sehingga harganya memang agak naik," jelas Bahlil.
Menteri ESDM secara khusus meminta PT Pertamina Hulu Energi Tuban East Java untuk tidak mengubah-ubah kontrak pasokan gas yang sudah disepakati. "Tolong disupport ya. Jangan sampai kalian 2 tahun terus macet-macet kan, tidak boleh. Orang sudah investasi besar ini, jadi support terus, pegang itu kontrak, jangan diubah-ubah kontraknya supaya mereka ada kepastian dalam melakukan investasi ke depan," tegasnya.
Mengurangi Impor LPG, Memperkuat Bauran Energi
Bahlil menilai pabrik ini merupakan karya nyata dalam memenuhi kebutuhan energi dalam negeri. Ia menyoroti bahwa produksi LPG dari fasilitas ini akan langsung berkontribusi mengurangi ketergantungan Indonesia pada impor LPG.
"Saya melihat ini adalah sebuah karya nyata dari sebuah perusahaan yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri kita. Apalagi ini kan menghasilkan ada LNG, ada LPG, ada kondensat, dan ada CNG juga. Nah ini adalah merupakan bentuk daripada bauran energi dalam mengurangi impor LPG kita," ujar Bahlil saat peresmian.
Dengan beroperasinya mini LNG plant ini, pemerintah berharap keandalan pasokan energi bagi industri dan pembangkit listrik semakin kuat. Penggunaan bahan bakar impor yang lebih mahal dan beremisi tinggi bisa ditekan, serta daya saing ekonomi nasional meningkat.