NEGARA — Di sudut trotoar Jalan Ngurah Rai, seorang kusir duduk bersila, tatapannya kosong menembus hilir mudik kendaraan bermotor. Ia berharap ada keajaiban penumpang yang sudi menyapa jasanya. Pemandangan ini menjadi potret suram nasib dokar tradisional di Kabupaten Jembrana, Bali, yang nyaris punuh tergerus zaman.
Dari Ratusan Tersisa Enam Unit
Berdasarkan data Dinas Perhubungan setempat, jumlah dokar yang masih beroperasi di Jembrana saat ini hanya enam unit. Jauh menurun dibandingkan era 1990-an yang mencapai lebih dari seratus unit. Sisanya sudah pensiun, dijual, atau dibiarkan rusak di garasi pemiliknya.
Para kusir yang tersisa rata-rata berusia di atas 60 tahun. Mereka tidak memiliki regenerasi. Anak muda enggan meneruskan profesi yang dianggap kuno dan penghasilannya tidak menentu.
Sehari Kadang Sepi, Kadang Hanya Satu Pesanan
Dalam sehari, seorang kusir bisa duduk menunggu dari pagi hingga petang tanpa satu pun penumpang. Jika beruntung, ada satu atau dua pesanan—biasanya dari wisatawan yang penasaran atau warga yang membawa barang belanjaan dalam jumlah banyak.
"Kadang seharian tidak dapat penumpang. Saya hanya duduk di sini, lihat kendaraan lewat. Kalau ada yang naik, itu rezeki," ujar salah seorang kusir enggan disebutkan namanya. Ia sudah menghela dokar selama 30 tahun terakhir.
Tarif Rp 20 Ribu Sekali Jalan, Ongkos Kuda Lebih Besar
Tarif sekali jalan untuk naik dokar di Jembrana berkisar antara Rp 15 ribu hingga Rp 20 ribu per orang, tergantung jarak. Namun biaya perawatan kuda tidak murah. Pakan, vitamin, dan kandang menghabiskan puluhan ribu rupiah per hari.
Belum lagi biaya perawatan dokar itu sendiri. Roda, rangka kayu, dan tali kekang harus diperbaiki secara berkala. "Kalau dihitung-hitung, kadang rugi. Tapi ini sudah pekerjaan saya dari dulu, mau jadi apa lagi," kata kusir lainnya.
Wisatawan Lokal Jadi Andalan Terakhir
Penumpang dokar di Jembrana saat ini didominasi wisatawan lokal, terutama saat akhir pekan atau hari libur. Mereka naik dokar untuk sekadar nostalgia atau berfoto. Sementara warga sehari-hari lebih memilih ojek online atau kendaraan pribadi yang lebih cepat dan murah.
Pemerintah Kabupaten Jembrana melalui Dinas Pariwisata sebenarnya pernah mewacanakan menjadikan dokar sebagai ikon wisata budaya. Namun hingga kini belum ada realisasi program konkret untuk menghidupkan kembali moda transportasi tradisional tersebut.
Di trotoar yang sama, sang kusir terus menunggu. Ia tak bisa berbuat banyak selain berharap ada keajaiban—seorang penumpang yang sudi menyapa jasanya, meski hanya sekali jalan. Seperti dokar yang ia kendarai, perlahan tapi pasti, profesi ini mungkin akan benar-benar menjadi kenangan.