DENPASAR — Ketiadaan marka dan papan informasi di titik-titik pemberhentian Trans Metro Dewata (TMD) membuat penumpang kerap kebingungan. Alhasil, banyak calon penumpang yang tidak menyadari bahwa lokasi tersebut adalah tempat naik-turun penumpang resmi, sehingga lebih memilih menunggu di sembarang tempat.
Kekurangan ini diakui oleh PT Satria Trans Jaya selaku operator. Lewat program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), perusahaan mulai bergerak melengkapi fasilitas pendukung layanan TMD secara bertahap di seluruh wilayah Bali.
Mengapa Tiang Penanda Begitu Krusial?
Tanpa tiang petunjuk yang jelas, pengguna jasa tidak bisa membedakan antara halte resmi dan titik biasa di tepi jalan. Kondisi ini tidak hanya mengganggu kenyamanan, tapi juga berpotensi membahayakan keselamatan saat penumpang menunggu atau menyeberang.
Operator mencatat total kebutuhan tiang penanda di semua koridor TMD masih kurang sekitar 80 unit. Jumlah ini tersebar di rute-rute yang melayani kawasan padat seperti Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan.
Apa yang Sudah Dilakukan Operator?
PT Satria Trans Jaya mengaku sudah mulai memasang sejumlah tiang baru di beberapa titik prioritas. Langkah ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk meningkatkan kualitas layanan transportasi publik di Pulau Dewata.
“Pemasangan tiang penanda ini kami lakukan secara bertahap. Kami fokus dulu di titik-titik yang paling sering digunakan penumpang dan dekat dengan pusat keramaian,” ujar perwakilan PT Satria Trans Jaya dalam keterangan resminya.
Kapan Seluruh Halte Akan Dilengkapi?
Pemasangan tiang penanda tahap awal sudah dimulai dalam beberapa pekan terakhir. Operator menargetkan seluruh titik pemberhentian di koridor utama TMD sudah memiliki marka yang jelas dalam waktu dekat.
Meski begitu, belum ada kepastian jadwal pasti kapan kekurangan 80 tiang tersebut bisa terpenuhi seluruhnya. PT Satria Trans Jaya masih menunggu koordinasi lebih lanjut dengan Dinas Perhubungan Provinsi Bali terkait prioritas dan anggaran.
Dampak ke Penumpang Harian
Para penumpang setia TMD berharap perbaikan fasilitas ini bisa segera rampung. Mereka mengaku sering kebingungan saat turun dari bus di titik yang tidak jelas, apalagi jika berhenti di malam hari dengan pencahayaan minim.
“Kalau siang masih bisa lihat-lihat, tapi kalau malam benar-benar gelap. Kadang saya turun di tempat yang salah karena tidak ada papan namanya,” keluh seorang penumpang yang ditemui di terminal.
Ke depan, operator berencana menambahkan peta rute dan jadwal kedatangan bus di setiap tiang penanda. Fitur ini diharapkan memudahkan penumpang merencanakan perjalanan tanpa harus membuka aplikasi ponsel.