BALI — Banjir bandang yang menghancurkan sebagian besar wilayah Nepal pada Rabu lalu bukan sekadar bencana musiman. Ilmuwan memastikan pemicunya adalah peristiwa geofisika raksasa di Pegunungan Himalaya yang memicu reaksi berantai mematikan, mengubah aliran sungai menjadi gelombang air dahsyat dalam hitungan menit.
Goran Ekstrom, profesor dari Lamont-Doherty Earth Observatory Columbia University, mengungkapkan bahwa tanah longsor besar terjadi di celah pegunungan pada siang hari. Longsor tersebut menyapu bongkahan daratan beserta es gletser di atasnya, menghasilkan energi setara gempa magnitudo 5,2 yang terekam seismograf di seluruh dunia.
Dinding Air Setinggi 49 Meter Meluncur 70 Km/Jam
Ketika bebatuan runtuh, energi dan panas yang dihasilkan mencairkan gletser secara masif. Es, puing reruntuhan, dan air kemudian meluncur deras ke lembah. Ekstrom memperkirakan tinggi air banjir mencapai 40 hingga 49 meter dengan kecepatan luncur 70 kilometer per jam—lebih cepat dari arus sungai normal mana pun.
Tanah longsor kedua terjadi sekitar tiga jam setelah kejadian pertama. Hal ini memicu kekhawatiran bahwa lereng yang baru saja runtuh menjadi tidak stabil dan berpotensi memicu longsor susulan yang lebih besar.
Bendungan Alami Mengancam Longsor Susulan
Alur-alur sungai kini tersumbat lumpur dan puing-puing, membentuk bendungan alami yang sewaktu-waktu bisa jebol. Jika bendungan ini runtuh, gelombang air baru akan kembali menghantam area terdampak yang sudah porak-poranda.
Ekstrom menambahkan bahwa perubahan iklim mempercepat pencairan es dan gletser di seluruh dunia, termasuk di kawasan Himalaya. "Secara umum, tanah longsor di daerah pegunungan ini menjadi semakin sering terjadi. Hal itu telah dipastikan, dan itu terkait erat dengan mencairnya gletser," ujarnya kepada ABC News.
21 Danau Gletser di Nepal Berstatus Berbahaya
Ini bukan pertama kalinya kawasan tersebut dilanda banjir bandang. Pada 8 Juli 2025, volume Sungai Bhotekoshi tiba-tiba melonjak akibat luapan danau gletser di Sungai Lhende dekat perbatasan Nepal-China.
Studi International Centre for Integrated Mountain Development dan UNDP mengidentifikasi 3.624 danau gletser di Nepal, India, dan Tibet. Dari jumlah tersebut, 47 diklasifikasikan berpotensi bahaya dan berisiko jebol—21 di antaranya berada di Nepal.
Tidak ada prakiraan cuaca sebelum bencana yang memprediksi longsoran es akan melanda lokasi tersebut. Hingga Kamis pagi waktu setempat, korban tewas mencapai 358 orang dengan lebih dari 1.300 orang dilaporkan hilang dari area terdampak.