Pencarian

Wajah Baru Kota Singaraja: Kawasan Praja Mandala yang Dulu Hanya Dilewati Kini Jadi Tujuan Singgah Warga

Jumat, 28 Agustus 2026 • 15:08:32 WIB
Wajah Baru Kota Singaraja: Kawasan Praja Mandala yang Dulu Hanya Dilewati Kini Jadi Tujuan Singgah Warga
Warga beraktivitas di kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja, Singaraja, Buleleng, yang telah ditata sebagai ruang publik baru.

BULELENG — Kebiasaan Made Suastika (36) berubah drastis dalam lima tahun terakhir. Sopir travel asal Tabanan yang rutin mengantar wisatawan ke Lovina ini dulu mengaku hanya melintas di depan Kantor Bupati Buleleng tanpa pernah berhenti. Kini, hampir setiap kali perjalanan pulang, ia selalu menyempatkan diri singgah di kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja.

“Dulu saya hanya lewat dan tidak pernah singgah. Namun, setelah kawasan ini ditata, kalau sore atau petang, setelah mengantar wisatawan, saya menyempatkan diri berhenti sebentar,” ujar Suastika kepada LenteraEsai.id.

Setidaknya sudah empat kali ia berhenti di titik tersebut. Baginya, perubahan paling kentara terlihat dari bagaimana ruang kota kini digunakan. Remaja putra-putri terlihat datang untuk berswafoto dan menikmati suasana sore, sesuatu yang jarang terjadi sebelumnya.

Suasana Kota Lama yang Mengingatkan pada Yogyakarta

Pengalaman serupa dirasakan Ketut Seni Amelia (24), perantau asal Desa Pemaron yang bekerja di Denpasar. Setiap melintas dalam perjalanan pulang, ia dulu tak punya alasan untuk menghentikan kendaraannya di pusat kota. Namun, penataan kawasan bersejarah ini mengubah pikirannya.

“Dulu biasanya cuma lewat. Sekarang kalau sore rasanya ingin berhenti sebentar,” katanya.

Ketertarikan Amelia bukan sekadar untuk beristirahat. Ia mengaku ingin mengabadikan suasana Buleleng tempo dulu yang masih terasa kuat di kawasan tersebut. Deretan bangunan tua dan ruang kota yang tertata menghadirkan pengalaman berbeda, bahkan menurutnya mengingatkan pada suasana Yogyakarta.

“Rasanya seperti melihat suasana kota lama. Apalagi kalau sore, bagus untuk foto,” ucap Amelia.

Gedung Bersejarah Peninggalan Kolonial yang Tetap Dipertahankan

Perhatian Amelia tertuju pada Gedung Kantor Bupati Buleleng yang masih mempertahankan bentuk aslinya. Berdasarkan cerita para tetua yang ia dengar, bangunan tersebut tak banyak berubah dari masa lalu. “Menurut cerita para tetua yang saya dengar, bentuk Gedung Kantor Bupati ini masih sama seperti dahulu,” tuturnya.

Keberadaan bangunan lama justru menjadi daya tarik tersendiri. Di tengah modernisasi kota, jejak masa lalu membuat Singaraja memiliki karakter yang berbeda dari ruang kota modern lainnya. Kawasan ini juga dilengkapi Gedung Laksmi Graha dan Gedung Galeri UMKM yang menambah fungsi ruang publik tersebut.

Sejarah Titik Nol Kota Singaraja dan Tata Ruang Kolonial

Sejarawan sekaligus dosen sejarah Undiksha Singaraja, I Made Pageh, menjelaskan bahwa kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja menyimpan sejarah panjang yang berkaitan dengan tata kota peninggalan Belanda. Sebelum tugu Singa Ambara Raja berdiri, di lokasi tersebut terdapat pohon besar yang menjadi penanda kawasan.

“Titik nol kotanya memang dibuat oleh Belanda di situ. Dulu di sebelah barat patung Singa itu ada pohon kayu besar. Di sana ada kilometer nol,” jelas Pageh.

Konsep titik nol tersebut merupakan cara kolonial menentukan jarak geografis ke wilayah-wilayah lain. Namun, Singaraja memiliki lapisan sejarah yang lebih kompleks. Di sisi timur terdapat kawasan Catur Pata yang memiliki konteks berbeda dalam tata ruang tradisional dan sejarah Kerajaan Buleleng.

“Kantor Bupati itu masih dari zaman Belanda. Dulu itu kantor Residen Bali dan Lombok,” ungkap Pageh.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa pusat Kota Singaraja bukan sekadar ruang yang terbentuk dalam satu periode. Di dalamnya bertemu berbagai lapisan sejarah, mulai dari tata ruang kerajaan, tradisi Bali, hingga perencanaan kota kolonial. Tugu Singa Ambara Raja sendiri dibangun setelah masa kolonial dan kini menjadi ikon Kota Singaraja.

Follow lensabali.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: lenteraesai.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks