Pencarian

15 Tahun Kadek Kupas Bawang di Klungkung dengan Upah Rp 1.000 per Kg, Jari Membal Bekas Luka

Minggu, 16 Agustus 2026 • 19:20:02 WIB
15 Tahun Kadek Kupas Bawang di Klungkung dengan Upah Rp 1.000 per Kg, Jari Membal Bekas Luka
Kadek Astiani menunjukkan jari telunjuknya yang membal dan dipenuhi bekas luka akibat mengupas bawang selama 15 tahun di Pasar Galiran, Klungkung, Bali.

KLUNGKUNG — Suasana riuh menyelimuti kompleks pergudangan bawang Pasar Galiran, Klungkung, Bali, Minggu (16/8/2026) pagi. Sekitar 3 ton bawang merah asal Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), langsung diserbu puluhan buruh pengupas yang sudah menunggu sejak pukul 06.00 Wita.

Di sela kesibukannya, Kadek Astiani, salah seorang pengupas, angkat bicara soal informasi yang sempat beredar dan membuat heboh rekan-rekannya. Ia menegaskan nominal upah yang diterimanya jauh dari angka yang dikabarkan sebelumnya.

"Rp 1.000 per kilonya. Terus tadi malam saya baca lagi dari Rp 700 ribu, diralat jadi Rp 7 ribu per kilo. Itu juga masih salah, yang benar, kami di sini Rp 1.000. Kalau Rp 7 ribu per kilo bisa langsung kaya kami," ujar Kadek kepada detikcom.

Upah Tidak Pernah Naik Selama 15 Tahun

Perempuan asal Klungkung ini mengaku menggantungkan hidup dari pekerjaan mengupas bawang sejak upah masih Rp 400 per kilogram. Ia menjalani profesi ini dari anak dalam kandungan hingga kini anaknya hendak tamat bangku SMP.

"Terus dibilang Rp 700 ribu per kilo, juga Rp 7 ribu, dinaikkan Rp 2 ribu saja per kilo sudah syukurnya kita," cetusnya.

Setiap hari, Kadek dan ratusan buruh lain menaruh harapan pada truk-truk bawang yang berdatangan. Jika pasokan melimpah dan mereka bekerja hingga sore, penghasilan maksimal yang bisa dibawa pulang berkisar Rp 100 ribu dari mengupas 100 kilogram bawang.

"Kalau sampai sore bisa dapat Rp 100 ribu. Itu pun kalau bawangnya banyak. Karena kami rebutan juga ngambilnya dari truk," tuturnya.

Penghasilan Langsung Habis untuk Kebutuhan Dapur

Cerita serupa disampaikan Wayan Indrawati. Selama 20 tahun menjadi pengupas bawang, upah tertinggi yang pernah ia terima memang hanya Rp 1.000 per kilogram. Hari itu, ia baru mengantongi 40 kilogram bawang atau setara upah Rp 40 ribu.

"Paling banyak dapat 40 kilogram sehari. Ini dah saya dapat hari ini, Rp 40 ribu. Ini setiap hari langsung habis buat beli beras dan kebutuhan dapur. Nggak bisa ditabung," ungkap Indrawati sembari bersiap mengambil upahnya.

Sambil bercerita, Kadek memperlihatkan jari telunjuknya yang membal dan dipenuhi bekas luka. Penggunaan sarung tangan sengaja dihindari karena dinilai memperlambat gerakan jemarinya saat mengupas bawang.

500 Buruh Bergantung pada Pasokan Bawang dari Bima

Pengusaha bawang di Pasar Galiran, Nadila Sukmawati, menerangkan dalam sekali datang pasokan bawang mencapai 3 hingga 4 ton. Sistem pembayaran dilakukan langsung di tempat setelah bawang yang dikupas ditimbang.

"Ya, rata-rata 3 ton per hari sekali datang. Kalau pendapatannya, paling banyak Rp 50 ribu per orang. Tapi rata-rata dapatnya 40 kiloan," terang Nadila.

Nadila mengaku harga bawang saat ini mengalami penurunan menjadi Rp 24 ribu per kilogram. Dari puluhan gudang bawang yang ada di Pasar Galiran, terdapat sekitar 500 pekerja yang setiap hari mengupas bawang demi memenuhi kebutuhan pasar.

Follow lensabali.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks